Jumat, 18 April 2014

KONSEP DASAR KESEHATAN REPRODUKSI
PERMASALAHAN KESEHATAN REPRODUKSI
Dosen Pembimbing :Septi Kurniawati, SST

Selasa, 15 April 2014

Contoh KTI 3



BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Anatomi dan Fisiologi Sistem Penglihatan
1.      Anatomi Mata
Gambar 2.1          Struktur Bola Mata Manusia. (diadaptasi dari Martini Anatomi and Physiologi, Prentice Hall Inc, USA, 2000)


a.       Kornea
Kornea adalah jaringan vaskular dan bening (transparan) yang membentuk seperenam bagian bola mata dengan garis tengah kira-kira 11 mm. Kornea tersusun atas 5 lapisan, yaitu jaringan epitelium, membran browman, stroma, membran descemet, dan endotelium. Kornea dipersarafi oleh cabang saraf sensoris trigeminus (saraf kranialis V) dan menerima rangsang sensorik sebagai rasa nyeri. Oleh karena itu, iritasi terkecil apa pun akan menimbulkan nyeri dan refleks kornea, dengan produksi air mata berlebihan dan terjadi fotofobia (Tamsuri, 2011: 11).

b.      Pupil
Pupil merupakan bintik tengah yang berwarna hitam, yang merupakan celah dalam iris, tempat cahaya masuk guna mencapai retina (Evelyn, 2009: 384).
c.       Lensa mata
Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular tak berwarna dan transparan. Tebal sekitar 4 mm dan diameternya 9 mm. Dibelakang iris lensa digantung oleh zonula (zonula Zinnii) yang menghubungkannya dengan korpus siliare. Di sebelah anterior lensa terdapat humor aquaeus dan disebelah posterior terdapat viterus (Sunaryanto, 2009).
Di belakang pupil terletak lensa mata yang merupakan lensa berkekuatan besar untuk memfokuskan sinar ke bintik kuning selaput jala. Lensa mata yang terletak di dalam mata bersifat sangat bening. Lensa ini sangat lentur di dalam pembungkusnya yang sangat elastis atau kenyal. Pembungkus lensa ini dinamakan kapsul lensa. Pada anak dan remaja inti lensa bersifat lembek yang berangsur-angsur mengeras dengan bertambahnya usia, biasanya mulai pada usia 40 tahun. Lensa mata akan memfokuskan cahaya masuk ke dalam mata sehingga terbentuk bayangan yang tajam pada retina atau bintik kuning (Ilyas, 2006: 4).
d.      Retina
Retina adalah lapisan saraf pada mata, yang terdiri atas sejumlah lapisan serabut, yaitu sel-sel saraf, batang-batang dan kerucut. Jaringan saraf halus menghantarkan impuls saraf dari luar menuju diskus optik, yang merupakan titik tempat saraf optik meninggalkan biji mata. Titik ini disebut bintik buta karena tidak mempunyai retina. Bagian yang paling peka pada retina adalah makula, yang terletak tepat eksternal terhadap diskus optik, persis berhadapan dengan pusat pupil (Evelyn, 2009: 383).
2.      Fisiologi Penglihatan
Secara keseluruhan, fungsi mata dalam penglihatan adalah menangkap berkas cahaya sebagai pantulan dari benda, lalu diteruskan ke dalam bola mata melalui kornea dan kuat berkas cahaya diatur oleh pupil. Selanjutnya berkas cahaya difokuskan oleh lensa mata melalui daya akomodasi sehingga terbentuk bayangan yang lebih kecil dengan bayangan jatuh tepat di retina mata. Untuk menghasilkan bayangan yang optimal, seluruh organ mulai kornea, cairan bilik mata depan (humor aqueus), lensa mata dan cairan (humor vitreus) harus bening dan mampu meneruskan berkas cahaya dengan baik. Berkas bayangan yang jatuh ke retina akan ditangkap oleh sel retina yang bersifat fotoreseptor, yang mampu mengubah berkas cahaya menjadi impuls listrik, yang diteruskan menuju otak melalui nervus optikus. Impuls listrik tersebut akan dipersepsi sebagai penglihatan/”gambar” setelah mencapai area penglihatan (vision area) pada korteks serebri pars oksipitalis (Tamsuri, 2011: 14).
Gambar 2.3           Proses Normal Penglihatan (Helda, 2011).

B.     Konsep Lanjut Usia
1.      Pengertian lanjut usia
Penuaan merupakan proses normal perubahan yang berhubungan dengan waktu, sudah dimulai sejak lahir dan berlanjut sepanjang hidup. Usia tua adalah fase akhir dari rentang kehidupan. Menurut UU RI No. 4 tahun 1965 usia lanjut adalah mereka yang berusia 65 tahun ke atas (Fatimah, 2010: 2).
2.      Batasan-batasan lanjut usia
Menurut organisasi kesehatan dunia, menurut Bandiyah (2009: 19)
a.       Usia pertengahan (middle age) ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun
b.      Lanjut usia (elderly) = antara 60 dan 74 tahun
c.       Lanjut usia tua (old) = antara 76 dan 90 tahun
d.      Usia sangat tua ( very old) = di atas 90 tahun
Di Indonesia, batasan mengenai lanjut usia adalah 60 tahun ke atas, terdapat dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia pada Bab 1 pasal 1 Ayat 2. Menurut Undang-Undang tersebut lanjut usia adalah seseoang yang mencapai usia 60 tahun ke atas, baik pria maupun wanita (Kushariyadi, 2010: 3).
2.      Perubahan Sistem Penglihatan pada Lansia
Perubahan sistem penglihatan pada lansia meliputi: sfingter pupil timbul sklerosis dan respons terhadap sinar menghilang, kornea lebih berbentuk sferis (bola), lensa lebih suram (kekeruha pada lensa) menjadi katarak, daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat dan susah melihat dalam cahaya gelap, penurunan/hilangnya daya akomodasi, dengan manifestasi presbiopia, sulit melihat dekat yang dipengaruhi berkurangnya eastisitas lensa, lapang pandang menurun, luas pandangan berkurang, daya membedakan warna menurun (Nogroho, 2008: 29).
Pada mata bagian dalam, perubahan yang terjadi adalah ukuran pupil menurun dan reaksi terhadap cahaya berkurang dan juga terhadap akomodasi. Lensa menguning dan berangsur-angsur menjadi lebih buram mengakibatkan katarak, sehingga mempengaruhi kemampuan untuk menerima dan membedakan warna-warna. Kadang warna gelap seperti coklat, hitam dan marun nampak sama. Pandangan dalam area yang suram dan adaptasi terhadap kegelapan berkurang (sulit melihat dalam cahaya gelap) menempatkan lansia pada resik cedera. Sementara cahaya menyilaukan dapat menyebabkan nyeri dan membatasi kemampuan untuk membedakan objek-objek dengan jelas. Semua hal di atas dapat mempengaruhi kemampuan fungsional para lansia (Maryam, 2008: 109).

C.    Konsep Katarak
1.      Definisi
Katarak berasal dari bahasa Yunani “kataarrhakies” yang berarti air terjun. Dalam bahasa Indonnesia, katarak disebut bular, yaitu penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh. Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau akibat keduanya (Ilyas, 1999: 207).
Katarak adalah kekeruhan pada lensa atau kapsul lensa mata, penyebab umumnya adalah kehilangan penglihatan yang bertahap. Katarak umumnya mempengaruhi kedua mata, tetapi katarak di masing-masing mata memburuk sendiri-sendiri. Katarak merupakan penyakit yang paling banyak terjadi pada lansia (katarak senile) terutama orang di atas usia 70 tahun (Fatimah, 2010: 64).
2.      Etiologi
Sebagian besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau bertambahnya usia seseorang. Usia rata-rata terjadinya katarak adalah pada umur 60 tahun keatas. Akan tetapi, katarak dapat pula terjadi pada bayi karena sang ibu terinfeksi virus pada saat hamil muda. Penyebab katarak lainnya meliputi:
a)      Faktor keturunan
b)      Cacat bawaan sejak lahir (kongenital)
c)      Masalah kesehatan, misalnya diabetes
d)     Penggunaan obat tertentu, khususnya steroid
e)      Gangguan metabolisme seperti DM (Diabetes Melitus)
f)       Gangguan pertumbuhan
g)      Mata tanpa pelindung terkena sinar matahari dalam waktu yang cukup lama.
h)      Rokok dan alkohol
i)        Operasi mata sebelumnya
j)        Trauma (kecelakaan) pada mata
k)      Faktor-faktor lainnya yang belum diketahui.
(La Ode, 2012: 106).
Berbagai faktor dapat mengakibatkan tumbuhnya katarak lebih cepat. Faktor lain dapat mempengaruhi kecepatan berkembangnya kekeruhan lensa seperti diabetes melitus, obat tertentu, sinar ultraviolet B dari cahaya matahari, efek racun dari merokok dan alkohol, gizi kurang vitamin E dan radang menahun di dalam bola mata. Obat yang dipergunakan untuk penyakit tertentu dapat mempercepat timbulnya katarak seperti betametason, medrison, neostigmin, pilokarpin dan obat lainnya (Ilyas, 2006: 10).


3.      Patofisiogi
Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih, tansparan, berbentuk seperti kancing baju, mempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleus, di perifer ada korteks dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsul anterior dan posterior. Dengan bertambahnya usia, nukleus mengalami perubahan warna menjadi cokelat kekuningan. Di sekitar opasitas terdapat densitas seperti duri di anterior dan posterior nucleus. Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna nampak seperti kristal salju pada jendela. Perubahan fisik dan kimia dalam lensa menyebabkan hilangnya transparansi. Perubahan pada serabut halus multiple (zunula) yang memanjang dari badan silier ke sekitar daerah di luar lensa, misalnya dapat menyebabkan penglihatan mengalami distorsi. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi disertai influis air ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi sinar. Teori lain menyebutkan bahwa suatu enzim mempunya peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak (La Ode, 2012: 107).
Lensa berisi 65% air, 35% protein, dan mineral penting. Katarak merupakan kondisi penurunan ambulan oksigen, penurunan air, peningkatan kandungan kalsium dan berubahnya protein yang dapat larut menjadi tidak dapat larut. Pada proses penuaan, lensa secara bertahap kehilangan air dan mengalami peningkatan dalam usuran densitasnya. Peningkatan densitas diakibatkan oleh kompresi central serat lensa yang lebih tua. Serat-serat lensa yang padat lama-lama mentebabkan hilangnya transparansi lensa yang tidak terasa nyeri dan sering bilateral. Selain itu, berbagai penyebab katarak di atas menyebabkan gangguan metabolisme pada lensa mata. Gangguan metabolisme ini menyebabkan perubahan kandungan bahan-bahan yang ada di dalam lensa yang pada akhirnya menyebabkan kekeruhan lensa. Kekeruhan dapat berkembang di berbagai bagian lensa atau kapsulnya. Pada gangguan ini sinar yang masuk melalui kornea dihalangi oleh lensa yang keruh atau buram. Kondisi ini mengaburkan bayangan semu yang sampai pada retina. Akibatnya otak menginterprestasikan sebagai bayangan yang berkabut. Pada katarak yang tidak diterapi, lensa mata menjadi putih susu, kemudian berubah kuning, bahkan menjadi coklat atau hitam dan klien mengalami kesulitan dalam membedakan warna (La Ode, 2012: 108).
4.      Manifestasi klinis
Katarak didiagnosa terutama dengan gejala subyektif. Biasanya, pasien melaporkan penurunan ketajaman penglihatan, silau dan gangguan fungsional sampai derajat tertentu yang diakibatkan karena kehilangan penglihatan tadi. Temuan obyektif biasanya meliputi pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop (La Ode, 2012: 108)
Gejala umum gangguan katarak menuru La Ode (2012: 109) meliputi:
a)      Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek.
b)      Peka terhadap sinar atau cahaya.
c)      Dapat melihat dobel pada satu mata.
d)     Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca.
e)      Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.
Pada katarak senil (usia > 40 tahun) menurut  La Ode (2012: 109) dikenal 4 stadium:
Tabel 2.1               Stadium Katarak Senil
INSIPIEN
IMATUR
MATUR
HIPERMATUR
Kekeruhan
Ringan
Sebagian
Seluruh
Masif
Cairan lensa
Normal
Bertambah
Normal
Berkurang
Iris
Normal
Terdorong
Normal
Tremulans (hanya bila zonula putus)
Bilik mata depan
Normal
Dangkal
Normal
Dalam
Sudut bilik mata
Normal
Sempit
Normal
Terbuka
Shadow test
Negatif
Positif
Negatif
Pseudopositif
Penyulit
-
Glaukoma
-
Eveitis, glaukoma

5.      Komplikasi
Komplikasi yang biasa muncul yaitu:
a)    Yang terjadi berupa: visus tidak akan mencapai 1 a ambliopia
b)   Komplikasi yang terjadi nistagmus dan strabismus.
c)    Bila katarak dibiarkan maka akan mengganggu penglihatan dan akan dapat menimbulkan komplikasi berupa glaukoma dan uveitis.
(La Ode, 2012: 110)
d)   Pada pasien usia lanjut, kehilangan daya penglihatan dapat meningkatkan risiko jatuh (Tjahjono, 2013).






























Densitas sekitar opasitas

Perubahan warna nukleus (kekuningan)

Struktur nukleus berubah
Lansia

 







Kimia

Perubahan Fisik

Bercak kristal salju
                                                                                          +
                                                                                         
Lensa secara bertahap kehilangan air
Hilangnya transparansi lensa

                                                                                          
  
Gangguan persepsi sensori penglihatan


Pandangan kabur
Zunula di sekitar lensa

Distorsi penglihatan

Denaturasi protein lensa
Koagulasi protein lensa

Kabut
Transport air, nutrient, antioksidan ke nukleus berkurang


Korteks lensa terhidrasi daripada nukleus lensa


Kekeruhan lensa
(KATARAK)

Blocking sinar yang masuk
ke kornea

Bayangan semu yang sampai ke retina


Otak menginterpretasikan sebagai bayangan berkabut


Resio cedera



Kurang pengetahuan



Defisit perawatan diri


Ansietas



Kurang informasi



Sulit membedakan warna



Resio kehilangan penglihatan



 




























Bagan 2.1             Pathway Katarak (La Ode, 2012: 108)                                         
D.    Konsep Keselamatan Dan Keamanan Pada Lansia Dengan Katarak
1.      Definisi
Keselamatan adalah suatu keadaan seseorang atau lebih yang terhindar dari ancaman bahaya atau kecelakaan. Kecelakaan merupakan kejadian yang tidak dapat diduga dan diharapkan yang dapat menimbulkan kerugian, sedangkan keamanan adalah keadaan aman dan tenteram (Warnonah;2010:143).
Resiko cedera adalah peningkatan kemungkinan untuk jatuh yang dapat menyebabkan cedera fisik (Edy Yasa Mahendra, 2012).
2.      Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan keselamatan dan keamanan:
a.       Usia
Pada anak-anak tidak terkontrol dan tidak mengetahui akibat dari apa yang dilakukan. Pada lansia atau orang tua akan mudah sekali terjatuh atau kerapuhan tulang.
b.      Gangguan persepsi sensori
Pada sistem ini, yang berperan adalah penglihatan dan pendengaran. Kerusakan sensori akan memengaruhi adaptasi terhadap rangsangan yang berbahaya seperti gangguan penciuman, pendengaran dan penglihatan (Nugroho, 2008: 4-43).
c.       Tingkat pengetahuan
Kesadaran akan terjadinya gangguan keselamatan dan keamanan dapat diprediksi sebelumnya.
(Wartonah, 2010: 143)
Penyebab cedera pada lanjut usia biasanya merupakan gabungan beberapa faktor/multifaktor, antara lain karena:
a.       Kecelakaan (penyebab utama) (30-50%):
1)      Murni kecelakaan (misalnya, terpeleset, tersandung)
2)      Gabungan (misalnya, lingkungan yang jelek) dan kelainan akibat proses menua (misalnya, mata kurang awas)
b.         Nyeri kepala atau vertigo
c.         Hipotensi ortostatik: hipovolemia (curah jantung rendah), disfungsi otonom, terlalu lama berbaring, pengaruh obat hipotensi
d.      Obat-obaan: diuretik/antihipertensi, sedatif, antipsikotik, alkohol.
e.       Proses penyakit yang spesifik (misalnya, kardiovaskular, stroke, parkinson, serangan kejang dan penyakit serebelum)
f.       Idiopatik (tidak jelas sebabnya)
g.      Sinkope (kehilangan kesadaran secara tiba-tiba), misalnya: drop attack (serangan roboh), penurunan aliran darah ke otak tiba-tiba, infark miokard.
(Nugroho, 2008: 44)
3.      Faktor-faktor lingkungan yang sering dihubungkan dengan mudah cedera pada lansia dengan katarak
a.       Alat-alat atau perlengkapan rumah tangga yang sudah tua, tidak stabil, atau tergeletak di bawah
b.      Tempat tidur atau WC yang rendah/jongkok
c.       Tempat berpegangan yang tidak kuat/tidak mudah dipegang
d.      Lantai yang tidak datar baik ada trapnya atau menurun
e.       Karpet yang tidak dilem dengan baik, keset yang tebal/menekuk pinggirnya, dan benda-benda alas lantai yang licin atau mudah tergeser
f.       Lantai yang licin atau basah
g.      Penerangan yang tidak baik (kurang atau menyilaukan)
h.      Alat bantu jalan yang tidak tepat ukuran, berat, maupun cara penggunaannya
(Heny Susanty, 2009).
4.      Tindakan mencegah cedera:
a.       Klien/Lansia:
Biarkan lansia menggunakan alat bantu untuk meningkatkan keselamatan, latih lansia untuk pindah dari tempat tidur ke kursi, biasakan menggunakan pengaman tempat tidur jika tidur, bantu ke kamar mandi terutama untuk lansia yang menmggunakan obat penenang /diuretic, menggunakan kacamata bila berjalan atau melakukan sesuatu, usahakan ada yang menemani jika berpergian.
b.      Lingkungan
Tempatkan klien di ruangan khusus dekat kantor sehingga mudah diobservasi bila lansia tersebut di rawat, letakkan bel di bawah bantal dan ajarkan cara penggunaannya, gunakan tempat yang tidak terlalu tinggi, atur suhu ruangan supaya tidak terlalu panas atau dingin untuk menghindari pusing akibat suhu, taruhlah barang-barang yang memang seringkali diperlukan berada dalam jangkauan tanpa harus berjalan dulu, gunakan karpet antislip di kamar mandi, erhatikan kualitas penerangan di rumah (tidak menyilaukan), jangan sampai ada kabel listrik pada lantai yang biasa untuk melintas, pasang pegangan tangan pada tangga, bila perlu pasang lampu tambahan untuk daerah tangga, singkirkan barang-barang yang bisa membuat terpeleset dari jalan yang biasa untuk melintas, gunakan lantai yang tidak licin, atur letak furnitur supaya jalan untuk melintas mudah, menghindari tersandung, pasang pegangan tangan ditempat yang di perlukan seperti misalnya di kamar mandi (Turana, 2009).

E.     Konsep Asuhan Keperawatan
1.      Pengkajian
a.       Karakteristik Demografi
1)   Identitas diri klien
Pada umumnya katarak dialami oleh mereka yang berusia di atas 60 tahun (La Ode, 106:2012), dan cedera akibat jatuh lebih banyak terjadi pada lansia yang mengalami gangguan persepsi sensori seperti gangguan penglihatan (Nugroho, 2008: 43).
2)   Keluarga dekat
Adanya keluarga dekat seperti anak, suami atau istri yang merupakan unsur terpenting dalam membantu individu menyelesaikan masalah (Tamher, 8:2009).

3)   Riwayat pekerjaan dan status ekonomi
Riwayat pekerjaan sebelumnya yang mempengaruhi kesehatan mata seperti sering terkena sinar matahari secara langsung dalam waktu yang lama (La Ode, 2012: 119).
4)   Aktivitas rekreasi
Klien hanya memenuhi kebutuhan rekreatifnya dengan berkunjung ke saudara dan tetangga sekitar karena keterbatasan kemampuan beraktivitas dan keterbatasan penglihatan akibat proses penuaan (La Ode, 2012: 120).
5)   Riwayat keluarga
Katarak bisa disebabkan karena faktor keturunan (La Ode, 2012: 106).
b.      Pola Kebiasaan Sehari-hari
1)      Nutrisi
Kekurangan gizi vitamin E (bayam, kacang tanah, kacang almond, sawi, brokoli, paprika merah, bubuk cabai, tomat, kemangi, talas, kecambah, kedelai, kubis) dapat mempercepat proses berkembangnya penyakit katarak (Ilyas, 2006: 10). Keadaan nutrisi yang kurang juga dapat menimbulkan kelemahan dan mudah terserang penyakit, demikian sebaliknya, kelebihan nutrisi berisiko terhadap penyakit tertentu.


2)      Eliminasi
a)      BAK
Pada kandung kemih otot-otot melemah sehingga kapasitasnya menurun hingga 200 ml yang menyebabkan frekuensi berkemih meningkat (Maryam, 2008: 118).
b)      BAB
Peristaltik lemah, daya absorbsi terganggu dan biasanya timbul konstipasi (Bandiyah, 2009: 24).
3)      Personal higiene
Lansia dengan katarak dalam memenuhi kebutuhan personal higiene mengalami kesulitan atau ketergantungan karena keterbatasan kemampuan beraktivitas dan keterbatasan penglihatan (Maryam, 2008:110).
4)      Istirahat dan tidur
Kualitas tidur pada lansia mengalami perubahan. Perubahan pola tidur lansia disebabkan perubahan sistem saraf pusat yang mempengaruhi pengaturan tidur. Jumlah tidur pada lansia ± 6 jam/hari dan sering sulit tidur (Susanto, 2011).
5)      Kebiasaan mengisi waktu luang
Mudah cedera atau jatuh pada lansia dengan katarak sering terjadi pada  lansia dengan banyak kegiatan dan olahraga, mungkin disebabkan oleh kelelahan atau terpapar bahaya yang lebih banyak (Susanty, 2009).
6)      Kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan
Katarak bisa disebabkan karena rokok, alkohol dan penggunaan obat tertentu khususnya steroid (La Ode, 106:2012).
7)      Uraian kronologis kegiatan sehari-hari
Hampir semua aktivitas kegiatan sehari-hari akan terganggu seperti sulit untuk memnaca, melihat segala sesuatu jadi tidak jelas yang disebabkan karena adanya gangguan pada mata terutama katarak (Elfikri, 2013).
c.       Status Kesehatan
1)      Status kesehatan saat ini
Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek dan keluhan dirasakan bertambah berat pada siang hari karena terkena sinar atau cahaya yang menyilaukan sehingga lansia mengalami resiko cedera (Stanley, 2006: 128).
2)      Riwayat kesehatan masa lalu
Trauma mata, penggunaan obat steroid, penyakit diabetes melitus, operasi mata sebelumnya (La Ode, 2012: 106).
3)      Pengkajian/pemeriksaan fisik
a)   Keadaan umum: Sakit ringan
b)   Tingkat kesadaran: Komposmentis (GCS 4 – 5 – 6)
c)   Tanda-tanda vital: Nadi 60-100x/menit, Pernafasan 16-24x/menit, Tekanan darah S 120-140 D 90-110 mmHg, Suhu 365-375 OC (Hidayat, 2004: 278).
d)  Pemeriksaan fisik (Head to Toe)
(1)   Kepala
Kulit kepala dan rambut menipis berwarna kelabu karena mengalami penurunan pigmen dan jumlah melanosit (Bandiyah, 2009: 27).
(2)   Mata
Lensa mata berubah menjadi buram, penglihatan tidak jelas, peka terhadap sinar atau cahaya, dapat melihat dobel pada satu mata, penurunan daya akomodasi, lapang pandang menurun, luas pandangan berkurang dan daya membedakan warna menurun, visus berkurang (La Ode, 2012: 109).
(3)   Telinga
Fungsi pendengaran menurun, terjadi pengumpulan serumen, dapat mengeras karena meningkatnya keratin (Nugroho, 2008: 28).
(4)   Hidung dan sinus
Saraf penciuman mengecil (Nugroho, 2008: 28).
(5)   Mulut dan tenggorkan
Kehilangan gigi, indra pengecap menurun, adanya iritasi selaput lendir yang kronis, atrofi indra pengecap, hilangnya sensitivitas saraf pengecap di lidah, terutama rasa manis, asin, asam dan pahit; esofagus melebar (Bandiyah, 2009: 24).
(6)   Dada
(a)      Thorax/paru
Inspeksi      : Pergerakan dada simetris, tidak ada jejas, lesi.
Palpasi      : Tidak ada massa dan nyeri tekan.
Perkusi      : Terdapat suara sonor.
Auskultasi    : Tidak ada suara nafas tambahan (ronki, wheezing)
(Priharjo, 2006: 87-95).
(b)     Jantung
Inspeksi      : Iktus kordis tampak pada ICS 4-5 mid klavikula sinistra, tidak  terdapat lesi.
Palpasi        : Iktus kordis teraba pada ICS 4-5 mid klavikula sinistra, tidak terdapat massa.
Perkusi      : Terdapat suara pekak.
Auskultasi  : S1S2 tunggal, irama teratur, tidak ada suara tambahan.
(Priharjo, 2006: 110-111)
(7)   Abdomen
Inspeksi             : Bentuk abdomen simetris, tidak ada penonjolan
Auskultasi        : Peristaltik melemah.
Perkusi : Timpani
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa
(Nugroho, 2008: 30).
(8)   Genetalia
(a)    Pria: mengalami pembesaran prostat (Nugroho, 2008: 31).
(b)   Wanita: vagina mengalami kontraktur, selaput lendir mengering dan sekresi menurun (Maryam, 2008: 56).
(9)   Ekstremitas
(a)    Ekstremitas atas
Pergerakan bebas, tidak ada deformitas, tidak ada oedema, tidak ada pembengkakan dan nyeri tekan (Priharjo, 2007: 160).
(b)   Ekstremitas bawah
Persendian membesar dan menjadi kaku, pergerakan lutut dan jari-jari pergelangan terbatas, kram dan tremor (Maryam, 2008: 56).
(c)    Kekuatan otot
Kekuatan otot pada semua ekstremitas dinilai 5 yaitu yaitu dapat melawan tahanan pemeriksa dengan kekuatan penuh (La Ode, 2012: 122).

(10) Integument
Kulit tipis dan keriput, permukaan kulit cenderung kusam, kasar dan bersisik; timbul bercak pigmentasi; berkurangnya elastisitas; pertumbuhan kuku lebih lambat, kuku menjadi keras dan rapuh, pudar dan kurang bercahaya (Nugroho, 2008: 32), keluhan cedera, memar dan terbakar matahari (Fatimah, 2010: 12).
d.      Hasil Pengkajian Khusus
1)      Masalah kesehatan kronis
Adanya masalah kesehatan kronis ringan pada katarak senil tanpa disertai dengan  penyakit seperti diabetes melitus dan cacat bawaan sejak lahir (kongenital) (La Ode, 2012: 106).
2)      Fungsi kognitif
Aspek kognitif dari fungsi mental klien menurun karena keterbatasan kemampuan akibat proses penuaan (La Ode, 2012: 123).
3)      Status fungsional
Terjadi penurunan kemandirian dalam melakukan aktivitas pemenuhan kebutuhan sehari-hari (ADL) klien berdasarkan Indeks Katz, kemampuan yang dikaji meliputi keadekuatan dalam enam fungsi seperti mandi, berpakaian, toileting, berpindah, kontinen dan makan (Maryam, 2008: 110).

4)      Status psikologis (skala depresi):
Terdapat tanda-tanda depresi pada klien karena keterbatasan penglihatan yang dikaji berdasarkan Inventaris Depresi Beck (IDB) (La Ode, 124: 2012).
5)      Dukungan keluarga
Adanya keluarga atau sumber pelayanan kesehatan yang memberikan dukungan, perhatian dan pengawasan kesehatan klien (La Ode, 2012: 120).
e.       Lingkungan Tempat Tinggal
Alat-alat atau perlengkapan rumah tangga yang tergeletak di bawah, tempat tidur tidak stabil atau kamar mandi yang rendah dan tempat berpegangan yang tidak kuat atau tidak mudah dipegang, lantai tidak datar, licin atau menurun, karpet yang tidak dilem dengan baik, keset yang tebal/menekuk pinggirnya, dan benda-benda alas lantai yang licin atau mudah tergeser,lantai licin atau basah, penerangan yang tidak baik (kurang atau menyilaukan) (Susanti, 2009).
f.       Pemeriksaan diagnostik
1)      Pemeriksaan visus dengan kartu Snellen atau chart projector dengan koreksi terbaik serta menggunakan pinhole
2)      Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior
3)      Tekanan intraocular (TIO) diukur dengan tonometer non contact, aplanasi atau schiotz
4)      Jika TIO dalam batas normal (kurang dari 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata Tropicanamide 0.5%. Setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat derajat kekeruhan lensa apakah sesuai dengan visus pasien
a)      Derajat 1: Nukleus lunak, biasanya visus masih lebih baik dari 6/12, tampak sedikit kekeruhan dengan warna agak keputihan. Reflek fundus masih mudah diperoleh. Usia penderita biasanya kurang dari 50 tahun
b)      Derajat 2: Nukleus dengan kekerasan ringan, biasanya visus antara 6/12 – 6/30, tampak nucleus mulai sedikit berwarna kekuningan. Reflek fundus masih mudah diperoleh dan paling sering memberikan gambaran seperti katarak subkapsularis posterior.
c)      Derajat 3: Nukleus dengan kekerasan medium, biasanya visus antara 6/30 – 3/60, tampak nucleus berwarna kuning disertai kekeruhan korteks yang berwarna keabu-abuan.
d)     Derajat 4: Nukleus keras, biasanya visus antara 3/60 – 1/60, tampak nukleus berwarna kuning kecoklatan. Reflek fundus sulit dinilai.
e)      Derajat 5: Nukleus sangat keras, biasanya visus biasanya hanya 1/60 atau lebih jelek. Usia penderita sudah di atas 65 tahun. Tampak nucleus berwarna kecoklatan bahkan sampai kehitaman . katarak ini sangat keras dan disebut juga sebagai Brunescence cataract atau Black cataract.
5)      Pemeriksaan funduskopi jika masih memungkinkan.
(Inascrs, 2011)
g.      Penatalaksanaan
Menurut La Ode (2012: 110) yang dikutip dari Pokalo tidak ada terapi obat untuk katarak dan tidak dapat diambil dengan pembedahan laser. Namun, masih terus dilakukan penelitian mengenai kemajuan prosedur laser baru yang dapat digunakan untuk mencairkan lensa sebelum dilakukan pengisapan keluar melalui kanula.
Tidaklah perlu katarak dibedah bila belum menghalangi atau mengganggu penglihatan. Tindakan bedah diperlukan untuk mendapatkan penglihatan yang yang lenih baik (Ilyas, 2006: 25).
Bila penglihatan dapat dikoreksi dengan dilator pupil dan refraksi kuat sampai titik dimana pasien melakukan aktivitas hidup sehari-hari, maka penanganan biasanya konservatif. Pentingnya dikaji efek katarak terhadap kehidupan sehari-hari pasien. Mengkaji derajat gangguan fungsi sehari-hari seperti berdandan, ambulasi, aktifitas rekreasi, menyetir mobil dan kemampuan bekerja sangat penting untuk menentukan terapi mana yang paling cocok bagi masing-masing penderita (La Ode, 2012: 110).
Pembedahan katarak adalah pembedahan yang sering dilakukan pada orang berusia > 65 tahun. Sekarang ini, katarak paling sering diangkat dengan anestesia lokal berdasar pasien rawat jalan, meskipun pasien perlu dirawat bila ada indikasi medis. Keberhasilan pengembalian penglihatan yang bermanfaat dapat dicapai pada 95% pasien (La Ode, 2012: 110).
Ada dua macam teknik pembedahan tersedia untuk pengangkatan katarak: ekstrasi intrakapsuler dan ekstrakapsuler. Indikasi intervensi bedah adalah hilangnya penglihatan yang mempengaruhi aktivitas normal pasien atau katarak yang menyebabkan glaukoma atau yang mempengaruhi diagnosis dan terapi gangguan okuler lain, seperti retinopatidiabetika (La Ode, 2012: 111).
2.      Analisa Data
Tabel 2.2               Analisa Data
No
Kelompok Data
Etiologi
Masalah
1.
DS: mengeluh penglihatan tidak jelas, silau, penglihatan ganda.

DO: lapang pandang menurun, terdapat kekeruhan lensa, visus berkurang
Kekeruhan lensa (katarak)
Blocking sinar yang masuk ke kornea
Bayangan semu yang sampai ke retina
Otak menginterpretasikan sebagai bayangan berkabut
Pandangan kabur
Gangguan persepsi sensori: penglihatan
Gangguan persepsi sensori: penglihatan
2.
DS: mengeluh penglihatan kabur, silau, penglihatan ganda dan sering jatuh.

DO: lingkungan rumah yang kurang aman: lantai tidak datar, licin atau menurun, karpet yang tidak dilem dengan baik, keset yang tebal/menekuk pinggirnya, penerangan yang tidak baik (kurang atau menyilaukan)
Kekeruhan lensa (katarak)
Blocking sinar yang masuk ke kornea
Bayangan semu yang sampai ke retina
Otak menginterpretasikan sebagai bayangan berkabut
Pandangan kabur
Risiko cedera
Risiko cedera
3.
DS: Mengeluh penglihatan kabur sehingga keterbatasan dalam melakukan aktivitas kebutuhan sehari-hari.

DO: Penurunan dalam melakukan aktivitas pemenuhan kebutuhan sehari-hari (ADL) berdasarkan Indeks Katz
Kekeruhan lensa (katarak)
Blocking sinar yang masuk ke kornea
Bayangan semu yang sampai ke retina
Otak menginterpretasikan sebagai bayangan berkabut
Pandangan kabur
Tidak mampu melihat dengan jelas
Kurang perawatan diri

Kurang perawatan diri
4.
DO: mengeluh pandangan kabur dan bingung.

DS: Fungsi intelektual klien menurun berdasarkan SPMSQ,
Aspek kognitif dari fungsi mental klien menurun berdasarkan MMSE,
Fungsi sosial klien menurun berdasarkan APGAR keluarga dengan lansia.
Kekeruhan lensa (katarak)
Blocking sinar yang masuk ke kornea
Bayangan semu yang sampai ke retina
Otak menginterpretasikan sebagai bayangan berkabut
Pandangan kabur
Kurang informasi
Kurang pengetahuan

Kurang pengetahuan
5.
DS: mengeluh pandangan kabur, bingung, kehilangan sumber pendukung.

DO: Terdapat tanda-tanda depresi pada klien berdasarkan IDB,
Fungsi sosial klien menurun berdasarkan APGAR keluarga dengan lansia.
Kekeruhan lensa (katarak)
Blocking sinar yang masuk ke kornea
Bayangan semu yang sampai ke retina
Otak menginterpretasikan sebagai bayangan berkabut
Pandangan kabur
Risiko kehilangan penglihatan
Ansietas

Ansietas

3.      Diagnosa keperawatan
a.       Gangguan persepsi sensori: penglihatan yang berhubungan dengan penurunan tajam penglihatan dan kejelasan penglihatan.
b.      Resiko cedera yang berhubungan dengan keterbatasan penglihatan, pandangan kabur.
c.       Kurang pengetahuan: katarak yang berkaitan dengan kurangnya informasi mengenai kondisi, prognosis dan pengobatan.
d.      Ansietas yang berhubungan dengan takut kehilangan penglihatan
e.       Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan ketidakmampuan untuk melihat tubuh dan wajah yang cukup jelas untuk menjaga penampilan pakaian dan kosmetik.
4.      Intervensi
a.       Gangguan persepsi sensori: penglihatan yang berhubungan dengan penurunan tajam penglihatan dan kejelasan penglihatan.
1)      Pengertian
Adalah suatu keadaan di mana individu mengalami perubahan dalam jumlah atau pola dari penerimaan rangsangan disertai dengan diminished, eksagregasi, distorsi atau gangguan berespons terhadap rangsangan tersebut.
2)      Berhubungan dengan:
Gangguan penerimaan sensori: gangguan status organ indra.

3)      Tujuan:
Klien melaporkan atau memperagakan kemampuan yang lebih baik untuk proses rangsang penglihatan dan mengkomunikasikan perubahan visual.
4)      Kriteria hasil:
a)      Berpartisipasi dalam pengobatan.
b)      Mempertahankan lapang ketajaman penglihatan tanpa kehilangan lebih lanjut.
c)      Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi penglihatan seperti: proses penuaan, pencahayaan ruangan.
d)     Mengidentifikasi dan menunjukkan pola-pola alternatif untuk meningkatkan penerimaan rangsang penglihatan seperti penggunaan rangsangan audiotorik, taktil dan pengaturan lingkungan tempat tinggal.
5)      Intervensi keperawatan:
a)      Kaji ketajaman penglihatan klien.
Rasional: mengidentifikasi kemampuan visual klien.
b)      Identifikasi alternatif untuk optimalisasi sumber rangsangan.
Rasional: memberikan keakuratan penglihatan dan perawatnnya.
c)      Anjurkan penggunaan alternatif rangsang lingkungan yang dapat diterima: audiotorik, taktil
Rasional: meningkatkan kemampuan respons terhadap stimulus lingkungan.
d)     Beritahu klien bentuk-bentuk rangsangan alternatif (radio. TV, percakapan).
Rasional: meningkatkan stimulasi. Saat pandangan menjadi terbatas, beberapa klien mengganti dengan stimulasi yang lain seperti radio dan TV untuk membaca.
e)      Beri waktu lebih lama untuk memfokuskan sesuatu
Rasional: meningkatkan kemampuan respons terhadap stimulus
f)       Anjurkan klien untuk memeriksakan mata secara berkala
Rasional: Menunda pemeriksaan mata dapat menyebabkan kehilangan penglihatan permanen dan memungkinkan timbulnya komplikasi.
g)      Kolaborasi untuk penggunaan alat bantu penglihatan seperti kacamata katarak dan tindakan pembedahan
Rasional: tidaklah perlu dibedah bila belum menghalangi penglihatan, pembedahan diperlukan untuk mendapatkan penglihatan yang lebih baik dan kacamata katarak akan memperbesar ± 25%.



b.      Risiko cedera yang berhubungan dengan keterbatasan penglihatan, pandangan kabur.
1)      Pengertian
Risiko cedera adalah peningkatan risiko dari kecelakaan cedera jaringan (seperti luka, luka bakar, fraktur).
2)      Berhubungan dengan:
1.      Kurangnya pendidikan tentang keamanan
2.      Riwayat trauma terdahulu
3.      Kurangnya penglihatan
4.      Ketidakmampuan menidentifikasi bahaya dalam lingkungan
3)      Tujuan: cidera tidak terjadi
4)      Kriteria hasil:
a)      Meningkatkan tingkat aktivitas
b)      Dapat beradaptasi dengan lingkungan untuk mengurangi risiko trauma/cedera
c)      Tidak mengalami trauma/cedera
d)     Keluarga mengenali potensial di lingkungan dan mengidentifikasi tahap-tahap untuk memperbaikinya.
5)      Intervensi keperawatan:
a)      Berikan informasi pada klien mengenai bahaya lingkungan dan karakteristiknya.
Rasional: menurunkan bahaya keamanan sehubungan dengan perubahan lapang pandang dan kehilangan penglihatan terhadap lingkungan.
b)      Berikan materi pendidikan pada klien dan keluarga yang berhubungan dengan strategi dan tindakan untuk mencegah cedera.
Rasional: meningkatkan pemahaman dan mengurangi terjadinya kemungkinan terjadinya cedera.
c)      Identifikasi faktor yang mempengaruhi kebutuhan keamanan, misalnya defisit motorik atau sensorik.
Rasional: mengetahui gangguan yang terjadi dan perencanaan selanjutnua.
d)     Identifikasai faktor lingkungan yang memungkinkan resiko cedera (lantai licin, karpet yang sobek, anak tangga berlubang)
Rasional: perlunya untuk mempertahankan lingkungan yang aman.
e)      Sesuaikan lingkungan untuk optimalisasi penglihatan:
a.         Orientasikan klien terhadap realitas dan lingkungan saat ini bila dibutuhkan.
b.        Letakkan alat yang sering digunakan di dekat klien atau pada sisi mata yang lebih sehat.
c.         Berikan pencahayaan yang cukup.
d.        Letakkan alat di tempat yang tetap.
e.         Hindari cahaya menyilaukan.
Rasional: meningkatkan kemampuan persepsi sensori dan mengurangi resiko terhadap cedera
f)       Ajarkan klien dan keluarga tentang upaya pencegahan cidera (menggunakan pencahayaan yang baik, memasang penghalang tempat tidur, menempatkan benda berbahaya ditempat yang aman, lantai datar, bersih dan tidak licin)
Rasional: lingkungan yang aman dapat membantu mengurangi resiko cedera.
g)      Anjurkan pada keluarga untuk tidak merubah lingkungan fisik yang tidak diperlukan dan mempertahankan lingkungan tetap aman (misalnya, penempatan perabot).
Rasional: menurunkan bahaya keamanan sehubungan dengan perubahan lapang pandang dan kehilangan penglihatan terhadap perubahan lingkungan.
h)      Anjurkan klien untuk menggunakan kacamata protektif dan pelindung mata pada siang hari dan pelindung mata pada malam hari atau sesuai keperluan.
Rasional: meningkatkan masukan sensori, membatasi/menurunkan kesalahan interpretasi stimulasi.
i)        Letakkan benda dimana klien dapat melihat dan meraihnya tanpa klien menjangkau terlalu jauh.
Rasional: jarak yang tidak terlalu jauh meminimalkan perjalanan sehingga mengurangi resiko terjatuh.
j)        Bantu klien dengan ambulasi, sesusai dengan kebutuhan.
Rasional: meningkatkan kemampuan klien dalam melakukan kegiatan yang aman.
c.       Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan ketidakmampuan untuk melihat tubuh dan wajah yang cukup jelas untuk menjaga penampilan pakaian dan kosmetik.
1)      Definisi
Adalah suatu keadaan di mana individu mengalami gangguan kemampuan untuk melakukan atau melengkapi aktivitas untuk dirinya.
2)      Berhubungan dengan:
a)Penurunan atau kurangnya motivasi
b)         Hambatan lingkungan
c)Defisit sensori
d)         Gangguan kognitif atau persepsi.
3)      Ditandai dengan:
Penurunan kemampuan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari (makan, mandi, berpakain, berdandan dan eliminasi).
4)      Kriteria hasil:
a)      Mampu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan tingkat kemampuan
b)      Mampu mengidentifikasi dan menggunakan sumber pribadi/komunitas yang dapat memberikan bantun.
5)      Intervensi keperawatan
a)   Jelaskan tentang pentingnya melakukn perawatan diri
Rasional: kebersihan dan penampilan meningkatkan kepercayaan diri.
b)   Identifikasi kesulitan dalam berpakaian atau perawatan diri
Rasional: masalah dapat diminimalkan dengan menyesuaikan atau memerlukan konsultasi dari ahli lain.
c)   Identifikasi kebutuhan kebersihan diri dan berikan bantuan sesuai kebutuhan dengan perawatan rambut, kuku, kulit, bersihkan kacamata dan gosok gigi.
Rasional: seiring perkembangan penyakit, kebutuhan kebersihan dasar mungkin dilupakan.
d)  Anjurkan klien melakukan perawatan diri sesuai kemampuan yang dimiliki.
Rasional: meningkatkan kemandirian dan rasa kontrol diri, dapat menurunkan perasaan tidak berdaya.
e)   Bantu mengenakan pakaina yang rapi dan indah
Rasional: meningkatkan kepercayaan untuk hidup
f)    Lakukan pengawasan dan berikan kesempatan untuk melakukan sendiri sesuai kemampuan
Rasional: mudah sekali terjadi frustasi jika kehilangan kemandirian.
g)   Kolaborasi atau konsultasikan dengan ahli terapi okupasi
Rasional: mengidentifikasi keutuhan, meningkatkan kemandirian dan perasaan menghargai diri sendiri.
d.      Kurang pengetahuan: katarak yang berkaitan dengan kurangnya informasi mengenai kondisi, prognosis dan pengobatan.
1)      Definisi
Adalah suatu keadaan di mana informasi khusus sangat kurang.
2)      Berhubungan dengan:
a)   Kurang terbuka, interpretasi informasi yang salah
b)   Tidak mengenal sumber informasi
c)   Keterbatasan pengetahuan, hilangnya kemampuan untuk mengingat kembali.
3)      Ditandai dengan:
a)     Tidak adekuat melakukan pemeriksaan
b)    Sering bertanya
c)     Tidak dapat mengikuti instruksi dengan akurat
4)      Kriteria hasil:
a)   Mengembangkan hubungan saling percaya, saling membantu.
b)   Menyatakan pemahaman tentang kondisi, prognosis dan pengobatan
c)   Mengidentifikasi hubungan tanda atau gejala dengan proses penyakit
d)  Melakukan prosedur dengan benar dan menjelaskan alasan tindakan.
5)      Intervensi keperawatan
a)      Kaji pemahaman klien tentang penyakitnya.
Rasional: persepsi yang keliru mungkin berasal dari informasi yang salah atau pengalaman yang dipersepsikan kurang tepat oleh klien.
b)      Jelaskan gambaran penyakit dan kemungkinan penyembuhan.
Rasional: meningkatkan pemahaman tentang gambaran operasi.
c)      Jelaskan tentang proses penyakit, prosedur dan terapi, khususnya pembedahan untuk membantu mengurangi kecemasan pasien.
Rasional: meningkatkan pemahaman klien tentang penyakit dan menimbulkan perbaikan partisipasi rencana pengobatan.
d)     Beri kesempatan pada klien untuk bertanya tentang penyakitnya.
Rasional: menimbulkan rasa aman dan perhatian bagi klien.
e)      Evaluasi keinginan untuk belajar.
Rasional: menentukan jumlah informasi untuk memberikan hal yang penting.
f)       Kolaborasi atau rujuk ke rehabilitasi vokasional.
Rasional: perlu penilaian kemampuan sesuai indikasi dengan perkembangan penyakit/keterbatasan secara individual.
e.       Ansietas yang berhubungan dengan takut kehilangan penglihatan
1)        Definisi
Adalah tidak jelas, perasaan tidak menentu, sumber kecemasan biasanya tidak spesifik atau tidak dikenali oleh individu.
2)        Berhubungan dengan:
a)        Ancaman terhadap konsep diri
b)        Ancaman perubahan fungsi peran
c)        Faktor fisiologis, perubahan status kesehatan, nyeri, kehilangan penglihatan
d)       Kebutuhan tidak terpenuhi
3)        Ditandai dengan:
a)      Peningkatan ketegangan (lekas marah)
b)      Ketakutan, ragu-ragu, ketidakpastian.
c)      Meningkatnya rasa putus asa
d)     Perasaan tidak tenang, distress
e)      Gelisah, sulit tidur
f)       Selalu menghindar, kontak mata kurang, tremor, wajah tegang, suara meninggi, keringan berlebihan.
4)        Kriteria hasil:
a)      Tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat diatasi
b)      Menunjukkan keterampilan pemecahan masalah yang efektif
c)      Menggunakan sumber secara efektif.
5)        Intervensi keperawatan:
a)      Jelaskan gambaran kejadian pre- dan pascaoperasi, manfaat operasi, dan sikap yang harus dilakukan klien selama masa operasi.
Rasional: Meningkatkan pemahaman tentang gambaran operasi untuk menurunkan ansietas.
b)      Informasikan bahwa perbaikan penglihatan tidak terjadi secara langsung namun bertahap dan mungkin hanya untuk mencegah penyakit tidak lebih parah
Rasional: diperlukan untuk antisipasi depresi atau kekecewaan terhadap hasil pengobatan.
c)      Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan ekspresinya
Rasional: memungkinkan klien mengekspresikan ketakutan dan kekhawatirannya.
d)     Identifikasi sumber atau orang yang menolong.
Rasional: memberikan keyakinan bahwa klien tidak sendiri dalam menghadapi masalah.
e)      Anjurkan klien mengungkapkan perasaan tentang diri dan penyakit, menghargai dan menerima rasa takut, marah atau kurang berespons terhadap kejadian.
Rasional: pengungkapan perasaan meningkatkan pemahaman koping atau mekanisme pertahanan diri individu.
f)       Pertahankan lingkungan tenang, aman dengan menurunkan rangsangan, menjaga dan meyakinkan klien.
Rasional: keadaan lingkungan membantu dalam mengurangi tingkat kecemasan.
g)      Diskusikan bahwa pengawasan dan pengobatan mencegah kehilangan penglihatan tambahan.
Rasional: menurunkan ansietas sehubungan dengan ketidaktahuan atau harapan yang akan datang dan memberikan fakta untuk membuat pilihan pengobatan.
h)      Dorong klien mengakui masalah dan mengekspresikan perasaan.
Rasional: memberikan kesempatan klien menerima situasi nyata, mengklarifikasi salah konsepsi dan pemecahan masalah.
i)        Tunjukkan fakta-fakta tentang penyakit
Rasional: informasi tentang persentase kejadian kebutaan pada berbagai kasus dan dapat meningkatkan kepercayaan klien dan menambah keyakinan serta menurunkan ansietas.