BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang.
Perubahan akibat proses
menua pada sistem genitourinaria menyebabkan
penurunan fungsi testis seiring bertambahnya usia dan berdampak pada ketidak seimbangan hormon testosterone dan
dehidrotestosteron sehingga memacu pertumbuhan atau pembesaran prostat yang dapat meluas pada kandung kemih dan
menyumbat aliran keluar urin. (kowalak, welsh, mayer, 2011 : 652).
Angka kejadian Benigna
Prostat Hiperplasi di Indonesia selama 3 tahun (2006-2009) terdapat 1040 kasus
(Amalia, 2011). Data di jawa timur lebih dari
50 % kaum pria diatas usia 50 tahun dan 75 % diatas usia 70 tahun mengalami
peningkatan ukuran prostat. Dengan gejala klinik terbanyak
berupa retensi urine yaitu 33% dari setiap penderita. (maranatha, 2012) dan data di RSD Balung 89 kasus ( data ruang bedah
tahun 2011).
Benigna prostat
hiperplasi terjadi akibat penurunan fungsi testis yang menyebabkan
ketidakseimbangan hormon testosteron dan dehidrotestosteron sehingga memacu
pertumbuhan prostat dimulai dengan perubahan non malignan dan jaringan granduler
peri uretral. Pertumbuhan nodul vibro adenomatosa (masa jaringan vibrosa
granduler) berlangsung secara progresif sehingga terjadi kompresi pada kelenjar
prostat normal yang masih tersisa, ketika prostat membesar kelenjar ini dapat
meluas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran keluar urin dengan
menimbulkan kompresi atau distorsi pada uretra pars prostatika. (kowalak,
welsh, mayer, 2011 : 652).
Penanganan
utama untuk penyakit Benigna Prostat Hiperplasi secara konservatif adalah membatasi cairan untuk mencegah
distensi kandung kemih, duduk berendam, preparat antimikroba untuk mngetasi
infeksi, enjakulasi secara teratur untuk membantu meredakan kongesti prostat,
drainase kontinu dengan pemasangan kateter urine untuk mengurangi retensi
urine, dan untuk obat-obatan bisa menggunakan golongan penyekat alva adenergik,
seperti terazosin dan prazosin untuk memperbaiki laju aliran urin guna untuk
mengurangi obstruksi saluran keluaran kandung kemih, (kowalak, welsh, mayer,
2011 : 653). Tehnik pembedahan merupakan
satu-satunya terapi yang efektif untuk menghilangkan retensi yang akut,
hidronefrosis, hematuria berat, dan gejala lainnya yang tidak bisa ditoleransi.
(kowalak, welsh, mayer, 2011 : 653).
B.
Rumusan
masalah.
Dari latar belakang tersebut maka rumusan masalahnya
sebagai berikut “Bagaimanakah Asuhan Keperawatan pemenuhan kebutuhan eliminasi
; retensi urin pada pasien benigna prostat hiperplasi diruang bedah RSD. BALUNG
tahun 2013?”.
C.
Tujuan
.
1. Tujuan
umum.
Mahasiswa
mampu menerapkan Asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan eliminasi ; retensi
urine pada pasien benigna prostat hiperplasi diruang bedah RSD. BALUNG tahun 2013.
2. Tujuan
khusus.
a. Mengkaji
pemenuhan kebutuhan eliminasi ; retensi urine pada pasien benigna prostat
hiperplasi diruang bedah RSD. BALUNG
tahun 2013.
b. Merumuskan
asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan eliminasi ; retensi urine pada pasien benigna
prostat hiperplasi diruang bedah RSD.
BALUNG tahun 2013.
c. Merencanakan
asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan eliminasi ; retensi urine pada pasien benigna
prostat hiperplasi diruang bedah RSD.
BALUNG tahun 2013.
d. Melaksanakan
asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan eliminasi ; retensi urine pada pasien benigna
prostat hiperplasi diruang bedah RSD.
BALUNG tahun 2013.
e. Mengevaluasi
asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan eliminasi ; retensi urine pada pasien benigna
prostat hiperplasi diruang bedah RSD.
BALUNG tahun 2013.
f. Mendokumentasikan
asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan eliminasi ; retensi urine pada pasien benigna
prostat hiperplasi diruang bedah RSD.
BALUNG tahun 2013.
D. Sistematika penulisan.
Sistematika
penulisan terdiri dari :
1.
Bagian awal meliputi :
Halaman Sampul, Halaman Judul, Halaman Persetujuan, Halaman
Pengesahan , Halaman pernyataan
orisinalitas, Kata Pengantar,
Daftar Isi,
Daftar Gambar, Daftar Tabel, Daftar Lampiran.
2.
Bagian inti meliputi :
a.
BAB 1 Pendahuluan,
Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan
Penelitian, Sistematika
Penulisan, Pengumpulan Data.
b.
BAB 2 Tinjauan Pustaka.
Anatomi Sistem Perkemihan meliputi:
anatomi ginjal, anatomi ureter, anatomi vesika urinaria, anatomi prostat,
anatomi uretra. Fisiologi Sistem Perkemihan meliputi, Konsep benigna prostat
hiperplasi meliputi : defnisi benigna prostat hiperplasi, etiologi, manifestasi
klinis, patofisiologi, pengukuran prostat, komplikasi, pemeriksaan penunjang,
penatalaksanaan. Konsep dasar pemenuhan kebutuhan eliminasi meliputi :
definisi, factor-faktor yang mempengaruhi eliminasi urin, masalah-masalah
eliminasi urin, perubahan pola eliminasi urin. Pathway, Konsep asuhan keperawatan meliputi : identitas, alas an
masuk RS, keluhan utama, riwayat kesehatan, riwayat penyakit sekarang, riwayat
penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, keadaan umum klien, tanda-tanda
vital, body sistem, analisa data, diagnosis keperawatan, dan intervensi.
E.
Pengmpulan Data.
1. Observasi.
Yaitu dengan cara mengamati langsung
keadaan klien melalui pemeriksaan fisik secara inspeksi, perkusi, palpasi dan
auskultasi untuk mendapatkan data objektif.
2. Wawancara
Yaitu pengumpulan data dengan melakukan
komunikasi lisan yang di dapat secara langsung dari klien (autoanamnesa) dan
keluarga ( alloanamnesa) untuk mendapatkan data subjektif.
3. Studi
dokumentasi.
Yaitu npengumpulan data yang di dapatkan
dari buku status kesehatan klien yaitu meliputi catatan medik yang berhubungan
dengan klien.
4. Studi
kepustakaan.
Di
lakukan dengan cara penggunaan buku-buku untuk mendapatkan landasan teori yang
berkaitan dengan kasus yang di hadapi, sehingga dapat membandingkan teori
dengan fakta di lahan praktek.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar