BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi dan Fisiologi Sistem Penglihatan
1.
Anatomi Mata
Gambar 2.1 Struktur
Bola Mata Manusia. (diadaptasi dari Martini Anatomi and Physiologi, Prentice
Hall Inc, USA, 2000)
a.
Kornea
Kornea adalah jaringan
vaskular dan bening (transparan) yang membentuk seperenam bagian bola mata dengan
garis tengah kira-kira 11 mm. Kornea tersusun atas 5 lapisan, yaitu jaringan
epitelium, membran browman, stroma, membran descemet, dan endotelium. Kornea
dipersarafi oleh cabang saraf sensoris trigeminus (saraf kranialis V) dan
menerima rangsang sensorik sebagai rasa nyeri. Oleh karena itu, iritasi
terkecil apa pun akan menimbulkan nyeri dan refleks kornea, dengan produksi air
mata berlebihan dan terjadi fotofobia (Tamsuri, 2011: 11).
b.
Pupil
Pupil merupakan bintik
tengah yang berwarna hitam, yang merupakan celah dalam iris, tempat cahaya
masuk guna mencapai retina (Evelyn, 2009: 384).
c.
Lensa mata
Lensa adalah suatu struktur bikonveks,
avaskular tak berwarna dan transparan. Tebal sekitar 4 mm dan diameternya 9 mm.
Dibelakang iris lensa digantung oleh zonula (zonula Zinnii) yang
menghubungkannya dengan korpus siliare. Di sebelah anterior lensa terdapat
humor aquaeus dan disebelah posterior terdapat viterus (Sunaryanto, 2009).
Di belakang pupil
terletak lensa mata yang merupakan lensa berkekuatan besar untuk memfokuskan
sinar ke bintik kuning selaput jala. Lensa mata yang terletak di dalam mata
bersifat sangat bening. Lensa ini sangat lentur di dalam pembungkusnya yang
sangat elastis atau kenyal. Pembungkus lensa ini dinamakan kapsul lensa. Pada
anak dan remaja inti lensa bersifat lembek yang berangsur-angsur mengeras
dengan bertambahnya usia, biasanya mulai pada usia 40 tahun. Lensa mata akan
memfokuskan cahaya masuk ke dalam mata sehingga terbentuk bayangan yang tajam
pada retina atau bintik kuning (Ilyas, 2006: 4).
d.
Retina
Retina adalah lapisan
saraf pada mata, yang terdiri atas sejumlah lapisan serabut, yaitu sel-sel
saraf, batang-batang dan kerucut. Jaringan saraf halus menghantarkan impuls
saraf dari luar menuju diskus optik, yang merupakan titik tempat saraf optik
meninggalkan biji mata. Titik ini disebut bintik buta karena tidak mempunyai
retina. Bagian yang paling peka pada retina adalah makula, yang terletak tepat
eksternal terhadap diskus optik, persis berhadapan dengan pusat pupil (Evelyn,
2009: 383).
2.
Fisiologi Penglihatan
Secara
keseluruhan, fungsi mata dalam penglihatan adalah menangkap berkas cahaya
sebagai pantulan dari benda, lalu diteruskan ke dalam bola mata melalui kornea
dan kuat berkas cahaya diatur oleh pupil. Selanjutnya berkas cahaya difokuskan
oleh lensa mata melalui daya akomodasi sehingga terbentuk bayangan yang lebih
kecil dengan bayangan jatuh tepat di retina mata. Untuk menghasilkan bayangan
yang optimal, seluruh organ mulai kornea, cairan bilik mata depan (humor
aqueus), lensa mata dan cairan (humor vitreus) harus bening dan mampu
meneruskan berkas cahaya dengan baik. Berkas bayangan yang jatuh ke retina akan
ditangkap oleh sel retina yang bersifat fotoreseptor, yang mampu mengubah
berkas cahaya menjadi impuls listrik, yang diteruskan menuju otak melalui
nervus optikus. Impuls listrik tersebut akan dipersepsi sebagai
penglihatan/”gambar” setelah mencapai area penglihatan (vision area) pada korteks serebri pars oksipitalis (Tamsuri, 2011:
14).
Gambar
2.3 Proses Normal Penglihatan
(Helda, 2011).
B. Konsep Lanjut Usia
1.
Pengertian lanjut usia
Penuaan
merupakan proses normal perubahan yang berhubungan dengan waktu, sudah dimulai
sejak lahir dan berlanjut sepanjang hidup. Usia tua adalah fase akhir dari
rentang kehidupan. Menurut UU RI No. 4 tahun 1965 usia lanjut adalah mereka
yang berusia 65 tahun ke atas (Fatimah, 2010: 2).
2.
Batasan-batasan lanjut usia
Menurut organisasi
kesehatan dunia, menurut Bandiyah (2009: 19)
a.
Usia pertengahan (middle age) ialah kelompok
usia 45 sampai 59 tahun
b.
Lanjut usia (elderly) = antara 60 dan 74
tahun
c.
Lanjut usia tua (old) = antara 76 dan 90
tahun
d.
Usia sangat tua ( very old) = di atas 90
tahun
Di Indonesia, batasan
mengenai lanjut usia adalah 60 tahun ke atas, terdapat dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang
Kesejahteraan Lanjut Usia pada Bab 1 pasal 1 Ayat 2. Menurut Undang-Undang tersebut lanjut usia adalah seseoang yang
mencapai usia 60 tahun ke atas, baik pria maupun wanita (Kushariyadi, 2010: 3).
2. Perubahan Sistem
Penglihatan pada Lansia
Perubahan
sistem penglihatan pada lansia meliputi: sfingter
pupil timbul sklerosis dan respons terhadap sinar menghilang, kornea lebih berbentuk sferis (bola), lensa lebih suram (kekeruha pada lensa) menjadi katarak, daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat dan susah melihat dalam cahaya gelap, penurunan/hilangnya daya
akomodasi, dengan manifestasi presbiopia, sulit melihat dekat yang
dipengaruhi berkurangnya eastisitas lensa, lapang pandang menurun, luas pandangan berkurang, daya membedakan
warna
menurun (Nogroho, 2008: 29).
Pada mata bagian dalam,
perubahan yang terjadi adalah ukuran pupil menurun dan reaksi terhadap cahaya
berkurang dan juga terhadap akomodasi. Lensa menguning dan berangsur-angsur
menjadi lebih buram mengakibatkan katarak, sehingga mempengaruhi kemampuan
untuk menerima dan membedakan warna-warna. Kadang warna gelap seperti coklat,
hitam dan marun nampak sama. Pandangan dalam area yang suram dan adaptasi
terhadap kegelapan berkurang (sulit melihat dalam cahaya gelap) menempatkan
lansia pada resik cedera. Sementara cahaya menyilaukan dapat menyebabkan nyeri
dan membatasi kemampuan untuk membedakan objek-objek dengan jelas. Semua hal di
atas dapat mempengaruhi kemampuan fungsional para lansia (Maryam, 2008: 109).
C. Konsep Katarak
1.
Definisi
Katarak
berasal dari bahasa Yunani “kataarrhakies”
yang berarti air terjun. Dalam bahasa Indonnesia, katarak disebut bular, yaitu
penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh. Katarak adalah
setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi
(penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau akibat keduanya
(Ilyas, 1999: 207).
Katarak
adalah kekeruhan pada lensa atau kapsul lensa mata, penyebab umumnya adalah
kehilangan penglihatan yang bertahap. Katarak umumnya mempengaruhi kedua mata,
tetapi katarak di masing-masing mata memburuk sendiri-sendiri. Katarak
merupakan penyakit yang paling banyak terjadi pada lansia (katarak senile)
terutama orang di atas usia 70 tahun (Fatimah, 2010: 64).
2.
Etiologi
Sebagian
besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau bertambahnya usia
seseorang. Usia rata-rata terjadinya katarak adalah pada umur 60 tahun keatas.
Akan tetapi, katarak dapat pula terjadi pada bayi karena sang ibu terinfeksi
virus pada saat hamil muda. Penyebab katarak lainnya meliputi:
a)
Faktor keturunan
b)
Cacat bawaan sejak lahir (kongenital)
c)
Masalah kesehatan, misalnya diabetes
d) Penggunaan obat tertentu,
khususnya steroid
e)
Gangguan metabolisme seperti DM (Diabetes
Melitus)
f)
Gangguan pertumbuhan
g)
Mata tanpa pelindung terkena sinar matahari
dalam waktu yang cukup lama.
h)
Rokok dan alkohol
i)
Operasi mata sebelumnya
j)
Trauma (kecelakaan) pada mata
k)
Faktor-faktor lainnya yang belum diketahui.
(La Ode, 2012: 106).
Berbagai faktor dapat mengakibatkan tumbuhnya katarak
lebih cepat. Faktor lain dapat mempengaruhi kecepatan berkembangnya kekeruhan
lensa seperti diabetes melitus, obat tertentu, sinar ultraviolet B dari cahaya
matahari, efek racun dari merokok dan alkohol, gizi kurang vitamin E dan radang
menahun di dalam bola mata. Obat yang dipergunakan untuk penyakit tertentu
dapat mempercepat timbulnya katarak seperti betametason, medrison, neostigmin,
pilokarpin dan obat lainnya (Ilyas, 2006: 10).
3.
Patofisiogi
Lensa
yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih, tansparan, berbentuk
seperti kancing baju, mempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa mengandung
tiga komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleus, di perifer ada
korteks dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsul anterior dan posterior.
Dengan bertambahnya usia, nukleus mengalami perubahan warna menjadi cokelat
kekuningan. Di sekitar opasitas terdapat densitas seperti duri di anterior dan
posterior nucleus. Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang
paling bermakna nampak seperti kristal salju pada jendela. Perubahan fisik dan
kimia dalam lensa menyebabkan hilangnya transparansi. Perubahan pada serabut
halus multiple (zunula) yang memanjang dari badan silier ke sekitar daerah di
luar lensa, misalnya dapat menyebabkan penglihatan mengalami distorsi.
Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga
mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu
teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi disertai influis air
ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu
transmisi sinar. Teori lain menyebutkan bahwa suatu enzim mempunya peran dalam
melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya
usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak (La Ode, 2012:
107).
Lensa
berisi 65% air, 35% protein, dan mineral penting. Katarak merupakan kondisi
penurunan ambulan oksigen, penurunan air, peningkatan kandungan kalsium dan
berubahnya protein yang dapat larut menjadi tidak dapat larut. Pada proses penuaan,
lensa secara bertahap kehilangan air dan mengalami peningkatan dalam usuran
densitasnya. Peningkatan densitas diakibatkan oleh kompresi central serat lensa
yang lebih tua. Serat-serat lensa yang padat lama-lama mentebabkan hilangnya
transparansi lensa yang tidak terasa nyeri dan sering bilateral. Selain itu,
berbagai penyebab katarak di atas menyebabkan gangguan metabolisme pada lensa
mata. Gangguan metabolisme ini menyebabkan perubahan kandungan bahan-bahan yang
ada di dalam lensa yang pada akhirnya menyebabkan kekeruhan lensa. Kekeruhan
dapat berkembang di berbagai bagian lensa atau kapsulnya. Pada gangguan ini
sinar yang masuk melalui kornea dihalangi oleh lensa yang keruh atau buram.
Kondisi ini mengaburkan bayangan semu yang sampai pada retina. Akibatnya otak
menginterprestasikan sebagai bayangan yang berkabut. Pada katarak yang tidak
diterapi, lensa mata menjadi putih susu, kemudian berubah kuning, bahkan
menjadi coklat atau hitam dan klien mengalami kesulitan dalam membedakan warna
(La Ode, 2012: 108).
4.
Manifestasi klinis
Katarak didiagnosa terutama dengan gejala subyektif.
Biasanya, pasien melaporkan penurunan ketajaman penglihatan, silau dan gangguan
fungsional sampai derajat tertentu yang diakibatkan karena kehilangan
penglihatan tadi. Temuan obyektif biasanya meliputi pengembunan seperti mutiara
keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop (La Ode,
2012: 108)
Gejala umum gangguan katarak menuru La Ode (2012: 109) meliputi:
a)
Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut
menghalangi objek.
b)
Peka terhadap sinar atau cahaya.
c)
Dapat melihat dobel pada satu mata.
d) Memerlukan pencahayaan
yang terang untuk dapat membaca.
e)
Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca
susu.
Pada katarak senil (usia > 40 tahun) menurut La Ode (2012: 109) dikenal 4 stadium:
Tabel 2.1 Stadium Katarak Senil
|
INSIPIEN
|
IMATUR
|
MATUR
|
HIPERMATUR
|
|
|
Kekeruhan
|
Ringan
|
Sebagian
|
Seluruh
|
Masif
|
|
Cairan lensa
|
Normal
|
Bertambah
|
Normal
|
Berkurang
|
|
Iris
|
Normal
|
Terdorong
|
Normal
|
Tremulans (hanya bila
zonula putus)
|
|
Bilik mata depan
|
Normal
|
Dangkal
|
Normal
|
Dalam
|
|
Sudut bilik mata
|
Normal
|
Sempit
|
Normal
|
Terbuka
|
|
Shadow test
|
Negatif
|
Positif
|
Negatif
|
Pseudopositif
|
|
Penyulit
|
-
|
Glaukoma
|
-
|
Eveitis, glaukoma
|
5.
Komplikasi
Komplikasi yang biasa muncul yaitu:
a) Yang terjadi berupa: visus
tidak akan mencapai 1 a ambliopia
b) Komplikasi yang terjadi
nistagmus dan strabismus.
c) Bila katarak dibiarkan
maka akan mengganggu penglihatan dan akan dapat menimbulkan komplikasi berupa
glaukoma dan uveitis.
(La Ode, 2012: 110)
d) Pada pasien usia lanjut, kehilangan daya
penglihatan dapat meningkatkan risiko jatuh (Tjahjono, 2013).
|
Densitas sekitar opasitas
|
|
Perubahan warna nukleus
(kekuningan)
|
|
Struktur nukleus berubah
|
|
Lansia
|
|
Kimia
|
|
Perubahan Fisik
|
|
Bercak kristal salju
|
|
Lensa secara bertahap
kehilangan air
|
|
Hilangnya transparansi lensa
|
|
Gangguan persepsi sensori
penglihatan
|
|
Pandangan kabur
|
|
Zunula di sekitar lensa
|
|
Distorsi penglihatan
|
|
Denaturasi protein lensa
|
|
Koagulasi protein lensa
|
|
Kabut
|
|
Transport air, nutrient,
antioksidan ke nukleus berkurang
|
|
Korteks lensa terhidrasi
daripada nukleus lensa
|
|
Kekeruhan lensa
(KATARAK)
|
|
Blocking sinar yang masuk
ke kornea
|
|
Bayangan semu yang sampai ke
retina
|
|
Otak menginterpretasikan
sebagai bayangan berkabut
|
|
Resio cedera
|
|
Kurang pengetahuan
|
|
Defisit perawatan diri
|
|
Ansietas
|
|
Kurang informasi
|
|
Sulit membedakan warna
|
|
Resio kehilangan penglihatan
|
Bagan
2.1 Pathway Katarak (La Ode,
2012: 108)
D. Konsep Keselamatan Dan Keamanan Pada Lansia
Dengan Katarak
1.
Definisi
Keselamatan
adalah suatu keadaan seseorang atau lebih yang terhindar dari ancaman bahaya
atau kecelakaan. Kecelakaan merupakan kejadian yang tidak dapat diduga dan
diharapkan yang dapat menimbulkan kerugian, sedangkan keamanan adalah keadaan
aman dan tenteram (Warnonah;2010:143).
Resiko
cedera adalah peningkatan kemungkinan untuk jatuh yang dapat menyebabkan cedera
fisik (Edy Yasa Mahendra, 2012).
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi
kebutuhan keselamatan dan keamanan:
a.
Usia
Pada anak-anak tidak
terkontrol dan tidak mengetahui akibat dari apa yang dilakukan. Pada lansia
atau orang tua akan mudah sekali terjatuh atau kerapuhan tulang.
b.
Gangguan persepsi sensori
Pada sistem
ini, yang berperan adalah penglihatan dan
pendengaran. Kerusakan sensori akan memengaruhi adaptasi terhadap
rangsangan yang berbahaya seperti gangguan penciuman, pendengaran dan
penglihatan (Nugroho, 2008:
4-43).
c.
Tingkat pengetahuan
Kesadaran akan terjadinya
gangguan keselamatan dan keamanan dapat diprediksi sebelumnya.
(Wartonah, 2010: 143)
Penyebab
cedera pada lanjut usia biasanya merupakan gabungan beberapa
faktor/multifaktor, antara lain karena:
a.
Kecelakaan (penyebab utama) (30-50%):
1)
Murni kecelakaan (misalnya, terpeleset,
tersandung)
2)
Gabungan (misalnya, lingkungan yang jelek)
dan kelainan akibat proses menua (misalnya, mata kurang awas)
b.
Nyeri kepala atau vertigo
c.
Hipotensi ortostatik: hipovolemia (curah
jantung rendah), disfungsi otonom, terlalu lama berbaring, pengaruh obat
hipotensi
d.
Obat-obaan: diuretik/antihipertensi, sedatif,
antipsikotik, alkohol.
e.
Proses penyakit yang spesifik (misalnya,
kardiovaskular, stroke, parkinson, serangan kejang dan penyakit serebelum)
f.
Idiopatik (tidak jelas sebabnya)
g.
Sinkope (kehilangan kesadaran secara
tiba-tiba), misalnya: drop attack
(serangan roboh), penurunan aliran darah ke otak tiba-tiba, infark miokard.
(Nugroho, 2008: 44)
3. Faktor-faktor lingkungan
yang sering dihubungkan dengan mudah cedera pada lansia dengan katarak
a.
Alat-alat atau perlengkapan rumah tangga yang
sudah tua, tidak stabil, atau tergeletak di bawah
b.
Tempat tidur atau WC yang rendah/jongkok
c.
Tempat berpegangan yang tidak kuat/tidak
mudah dipegang
d.
Lantai yang tidak datar baik ada trapnya atau
menurun
e.
Karpet yang tidak dilem dengan baik, keset
yang tebal/menekuk pinggirnya, dan benda-benda alas lantai yang licin atau
mudah tergeser
f.
Lantai yang licin atau basah
g.
Penerangan yang tidak baik (kurang atau
menyilaukan)
h.
Alat bantu jalan yang tidak tepat ukuran,
berat, maupun cara penggunaannya
(Heny Susanty, 2009).
4. Tindakan mencegah cedera:
a.
Klien/Lansia:
Biarkan lansia menggunakan alat bantu untuk meningkatkan keselamatan, latih lansia untuk pindah dari tempat tidur ke
kursi, biasakan menggunakan pengaman tempat tidur jika
tidur, bantu ke kamar mandi terutama untuk lansia yang
menmggunakan obat penenang
/diuretic, menggunakan
kacamata bila berjalan atau melakukan sesuatu, usahakan ada yang menemani jika berpergian.
b.
Lingkungan
Tempatkan klien di ruangan khusus dekat kantor
sehingga mudah diobservasi bila lansia tersebut di rawat, letakkan bel di bawah bantal dan ajarkan cara
penggunaannya, gunakan
tempat yang tidak terlalu tinggi, atur suhu ruangan supaya tidak terlalu panas atau dingin untuk
menghindari pusing akibat suhu, taruhlah barang-barang yang memang seringkali
diperlukan berada dalam jangkauan tanpa harus berjalan dulu, gunakan karpet
antislip di kamar mandi, erhatikan kualitas penerangan di rumah (tidak
menyilaukan), jangan sampai ada kabel listrik pada lantai yang biasa untuk
melintas, pasang pegangan tangan pada tangga, bila perlu pasang lampu tambahan
untuk daerah tangga, singkirkan barang-barang yang bisa membuat terpeleset dari
jalan yang biasa untuk melintas, gunakan lantai yang tidak licin, atur letak
furnitur supaya jalan untuk melintas mudah, menghindari tersandung, pasang
pegangan tangan ditempat yang di perlukan seperti misalnya di kamar mandi (Turana, 2009).
E. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a.
Karakteristik Demografi
1) Identitas
diri klien
Pada umumnya katarak
dialami oleh mereka yang berusia di atas 60 tahun (La Ode, 106:2012), dan
cedera akibat jatuh lebih banyak terjadi pada lansia yang mengalami gangguan
persepsi sensori seperti gangguan penglihatan (Nugroho, 2008: 43).
2) Keluarga
dekat
Adanya keluarga
dekat seperti anak, suami atau istri yang merupakan unsur terpenting dalam
membantu individu menyelesaikan masalah (Tamher, 8:2009).
3) Riwayat
pekerjaan dan status ekonomi
Riwayat pekerjaan
sebelumnya yang mempengaruhi kesehatan mata seperti sering terkena sinar
matahari secara langsung dalam waktu yang lama (La Ode, 2012: 119).
4) Aktivitas
rekreasi
Klien hanya memenuhi kebutuhan rekreatifnya dengan
berkunjung ke saudara dan tetangga sekitar karena keterbatasan kemampuan
beraktivitas dan keterbatasan penglihatan akibat proses penuaan (La Ode, 2012:
120).
5) Riwayat
keluarga
Katarak bisa disebabkan
karena faktor keturunan (La Ode, 2012: 106).
b.
Pola Kebiasaan Sehari-hari
1)
Nutrisi
Kekurangan gizi vitamin
E (bayam, kacang tanah, kacang almond, sawi, brokoli, paprika merah, bubuk
cabai, tomat, kemangi, talas, kecambah, kedelai, kubis) dapat mempercepat proses
berkembangnya penyakit katarak (Ilyas, 2006: 10). Keadaan nutrisi yang
kurang juga dapat menimbulkan kelemahan dan mudah terserang penyakit, demikian sebaliknya,
kelebihan nutrisi berisiko terhadap penyakit tertentu.
2)
Eliminasi
a)
BAK
Pada kandung
kemih otot-otot melemah sehingga kapasitasnya menurun hingga 200 ml yang
menyebabkan frekuensi berkemih meningkat (Maryam, 2008: 118).
b)
BAB
Peristaltik
lemah, daya absorbsi terganggu dan biasanya timbul konstipasi (Bandiyah, 2009:
24).
3)
Personal higiene
Lansia dengan
katarak dalam memenuhi kebutuhan personal higiene mengalami kesulitan atau
ketergantungan karena
keterbatasan kemampuan beraktivitas dan keterbatasan penglihatan (Maryam,
2008:110).
4)
Istirahat dan tidur
Kualitas tidur pada
lansia mengalami perubahan. Perubahan pola tidur lansia disebabkan perubahan
sistem saraf pusat yang mempengaruhi pengaturan tidur. Jumlah tidur pada lansia
± 6 jam/hari dan sering sulit tidur (Susanto, 2011).
5)
Kebiasaan mengisi waktu luang
Mudah cedera atau
jatuh pada lansia dengan katarak sering terjadi pada lansia dengan banyak kegiatan dan olahraga,
mungkin disebabkan oleh kelelahan atau terpapar bahaya yang lebih banyak
(Susanty, 2009).
6)
Kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan
Katarak bisa
disebabkan karena rokok, alkohol dan penggunaan obat tertentu khususnya steroid
(La Ode, 106:2012).
7)
Uraian kronologis kegiatan sehari-hari
Hampir semua
aktivitas kegiatan sehari-hari akan terganggu seperti sulit untuk memnaca,
melihat segala sesuatu jadi tidak jelas yang disebabkan karena adanya gangguan
pada mata terutama katarak (Elfikri, 2013).
c.
Status Kesehatan
1)
Status kesehatan saat ini
Penglihatan tidak jelas,
seperti terdapat kabut menghalangi objek dan keluhan dirasakan bertambah berat
pada siang hari karena terkena sinar atau cahaya yang menyilaukan sehingga
lansia mengalami resiko cedera (Stanley, 2006: 128).
2)
Riwayat kesehatan masa lalu
Trauma mata, penggunaan
obat steroid, penyakit diabetes melitus, operasi mata sebelumnya (La Ode, 2012:
106).
3)
Pengkajian/pemeriksaan fisik
a) Keadaan umum: Sakit
ringan
b) Tingkat kesadaran: Komposmentis
(GCS 4 – 5 – 6)
c) Tanda-tanda vital: Nadi 60-100x/menit, Pernafasan 16-24x/menit, Tekanan
darah S 120-140 D 90-110 mmHg, Suhu 365-375 OC (Hidayat,
2004: 278).
d) Pemeriksaan fisik (Head
to Toe)
(1) Kepala
Kulit kepala dan rambut
menipis berwarna kelabu karena mengalami penurunan pigmen dan jumlah melanosit
(Bandiyah, 2009: 27).
(2) Mata
Lensa mata berubah
menjadi buram, penglihatan tidak jelas, peka terhadap sinar atau cahaya, dapat
melihat dobel pada satu mata, penurunan daya akomodasi, lapang pandang menurun,
luas pandangan berkurang dan daya membedakan warna menurun, visus berkurang (La
Ode, 2012: 109).
(3) Telinga
Fungsi pendengaran
menurun, terjadi pengumpulan serumen, dapat mengeras karena meningkatnya
keratin (Nugroho, 2008: 28).
(4) Hidung dan sinus
Saraf penciuman mengecil
(Nugroho, 2008: 28).
(5) Mulut dan tenggorkan
Kehilangan gigi, indra
pengecap menurun, adanya iritasi selaput lendir yang kronis, atrofi indra
pengecap, hilangnya sensitivitas saraf pengecap di lidah, terutama rasa manis,
asin, asam dan pahit; esofagus melebar (Bandiyah, 2009: 24).
(6) Dada
(a)
Thorax/paru
Inspeksi :
Pergerakan dada simetris, tidak ada jejas, lesi.
Palpasi : Tidak ada massa dan
nyeri tekan.
Perkusi : Terdapat suara sonor.
Auskultasi :
Tidak ada suara nafas tambahan (ronki, wheezing)
(Priharjo, 2006: 87-95).
(b) Jantung
Inspeksi : Iktus
kordis tampak pada ICS 4-5 mid klavikula sinistra, tidak terdapat lesi.
Palpasi :
Iktus kordis teraba pada ICS 4-5 mid klavikula sinistra, tidak terdapat massa.
Perkusi : Terdapat suara pekak.
Auskultasi : S1S2
tunggal, irama teratur, tidak ada suara tambahan.
(Priharjo, 2006: 110-111)
(7) Abdomen
Inspeksi : Bentuk abdomen simetris, tidak
ada penonjolan
Auskultasi :
Peristaltik melemah.
Perkusi :
Timpani
Palpasi :
Tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa
(Nugroho, 2008: 30).
(8) Genetalia
(a) Pria: mengalami
pembesaran prostat (Nugroho, 2008: 31).
(b) Wanita: vagina mengalami
kontraktur, selaput lendir mengering dan sekresi menurun (Maryam, 2008: 56).
(9) Ekstremitas
(a) Ekstremitas atas
Pergerakan bebas, tidak
ada deformitas, tidak ada oedema, tidak ada pembengkakan dan nyeri tekan
(Priharjo, 2007: 160).
(b) Ekstremitas bawah
Persendian membesar dan
menjadi kaku, pergerakan lutut dan jari-jari pergelangan terbatas, kram dan
tremor (Maryam, 2008: 56).
(c) Kekuatan otot
Kekuatan otot pada semua
ekstremitas dinilai 5 yaitu yaitu dapat melawan tahanan pemeriksa dengan
kekuatan penuh (La Ode, 2012: 122).
(10) Integument
Kulit tipis dan keriput,
permukaan kulit cenderung kusam, kasar dan bersisik; timbul bercak pigmentasi;
berkurangnya elastisitas; pertumbuhan kuku lebih lambat, kuku menjadi keras dan
rapuh, pudar dan kurang bercahaya (Nugroho, 2008: 32), keluhan cedera, memar
dan terbakar matahari (Fatimah, 2010: 12).
d.
Hasil Pengkajian Khusus
1)
Masalah kesehatan kronis
Adanya masalah
kesehatan kronis ringan pada katarak senil tanpa disertai dengan penyakit seperti diabetes melitus dan cacat
bawaan sejak lahir (kongenital) (La Ode, 2012: 106).
2)
Fungsi kognitif
Aspek kognitif dari
fungsi mental klien menurun karena keterbatasan kemampuan akibat proses penuaan
(La Ode, 2012: 123).
3)
Status fungsional
Terjadi penurunan
kemandirian dalam melakukan aktivitas pemenuhan kebutuhan sehari-hari (ADL)
klien berdasarkan Indeks Katz,
kemampuan yang dikaji meliputi keadekuatan dalam enam fungsi seperti mandi,
berpakaian, toileting, berpindah,
kontinen dan makan (Maryam, 2008: 110).
4)
Status psikologis (skala depresi):
Terdapat tanda-tanda
depresi pada klien karena keterbatasan penglihatan yang dikaji berdasarkan
Inventaris Depresi Beck (IDB) (La Ode, 124: 2012).
5)
Dukungan keluarga
Adanya keluarga atau sumber
pelayanan kesehatan yang memberikan dukungan, perhatian dan pengawasan
kesehatan klien (La Ode, 2012: 120).
e.
Lingkungan Tempat Tinggal
Alat-alat atau perlengkapan
rumah tangga yang tergeletak di bawah, tempat tidur tidak stabil
atau kamar mandi yang rendah dan tempat berpegangan yang tidak kuat atau tidak
mudah dipegang, lantai tidak datar, licin atau menurun, karpet yang tidak dilem
dengan baik, keset yang tebal/menekuk pinggirnya, dan benda-benda alas lantai
yang licin atau mudah tergeser,lantai licin atau basah, penerangan yang tidak
baik (kurang atau menyilaukan) (Susanti, 2009).
f.
Pemeriksaan diagnostik
1) Pemeriksaan
visus dengan kartu Snellen atau chart projector dengan koreksi terbaik serta
menggunakan pinhole
2)
Pemeriksaan dengan slit lamp
untuk melihat segmen anterior
3)
Tekanan intraocular (TIO)
diukur dengan tonometer non contact, aplanasi atau schiotz
4)
Jika TIO dalam batas normal
(kurang dari 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata Tropicanamide
0.5%. Setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan slit lamp untuk
melihat derajat kekeruhan lensa apakah sesuai dengan visus pasien
a) Derajat
1: Nukleus lunak, biasanya visus masih lebih baik dari 6/12, tampak sedikit
kekeruhan dengan warna agak keputihan. Reflek fundus masih mudah diperoleh.
Usia penderita biasanya kurang dari 50 tahun
b) Derajat
2: Nukleus dengan kekerasan ringan, biasanya visus antara 6/12 – 6/30, tampak
nucleus mulai sedikit berwarna kekuningan. Reflek fundus masih mudah diperoleh
dan paling sering memberikan gambaran seperti katarak subkapsularis posterior.
c) Derajat
3: Nukleus dengan kekerasan medium, biasanya visus antara 6/30 – 3/60, tampak
nucleus berwarna kuning disertai kekeruhan korteks yang berwarna keabu-abuan.
d) Derajat
4: Nukleus keras, biasanya visus antara 3/60 – 1/60, tampak nukleus berwarna
kuning kecoklatan. Reflek fundus sulit dinilai.
e) Derajat
5: Nukleus sangat keras, biasanya visus biasanya hanya 1/60 atau lebih jelek.
Usia penderita sudah di atas 65 tahun. Tampak nucleus berwarna kecoklatan
bahkan sampai kehitaman . katarak ini sangat keras dan disebut juga sebagai
Brunescence cataract atau Black cataract.
5) Pemeriksaan
funduskopi jika masih memungkinkan.
(Inascrs,
2011)
g.
Penatalaksanaan
Menurut La Ode (2012:
110) yang dikutip dari Pokalo tidak ada terapi obat untuk katarak dan tidak
dapat diambil dengan pembedahan laser. Namun, masih terus dilakukan penelitian
mengenai kemajuan prosedur laser baru yang dapat digunakan untuk mencairkan
lensa sebelum dilakukan pengisapan keluar melalui kanula.
Tidaklah perlu katarak
dibedah bila belum menghalangi atau mengganggu penglihatan. Tindakan bedah
diperlukan untuk mendapatkan penglihatan yang yang lenih baik (Ilyas, 2006:
25).
Bila penglihatan dapat
dikoreksi dengan dilator pupil dan refraksi kuat sampai titik dimana pasien
melakukan aktivitas hidup sehari-hari, maka penanganan biasanya konservatif.
Pentingnya dikaji efek katarak terhadap kehidupan sehari-hari pasien. Mengkaji
derajat gangguan fungsi sehari-hari seperti berdandan, ambulasi, aktifitas
rekreasi, menyetir mobil dan kemampuan bekerja sangat penting untuk menentukan
terapi mana yang paling cocok bagi masing-masing penderita (La Ode, 2012: 110).
Pembedahan katarak adalah
pembedahan yang sering dilakukan pada orang berusia > 65 tahun. Sekarang
ini, katarak paling sering diangkat dengan anestesia lokal berdasar pasien
rawat jalan, meskipun pasien perlu dirawat bila ada indikasi medis.
Keberhasilan pengembalian penglihatan yang bermanfaat dapat dicapai pada 95%
pasien (La Ode, 2012: 110).
Ada dua macam teknik pembedahan
tersedia untuk pengangkatan katarak: ekstrasi intrakapsuler dan ekstrakapsuler.
Indikasi intervensi bedah adalah hilangnya penglihatan yang mempengaruhi
aktivitas normal pasien atau katarak yang menyebabkan glaukoma atau yang
mempengaruhi diagnosis dan terapi gangguan okuler lain, seperti
retinopatidiabetika (La Ode, 2012: 111).
2. Analisa Data
Tabel 2.2 Analisa
Data
|
No
|
Kelompok Data
|
Etiologi
|
Masalah
|
|
1.
|
DS: mengeluh penglihatan tidak jelas,
silau, penglihatan ganda.
DO: lapang pandang menurun, terdapat
kekeruhan lensa, visus berkurang
|
Kekeruhan lensa
(katarak)
Blocking
sinar yang masuk ke kornea
Bayangan
semu yang sampai ke retina
Otak
menginterpretasikan sebagai bayangan berkabut
Pandangan kabur
Gangguan persepsi
sensori: penglihatan
|
Gangguan persepsi sensori: penglihatan
|
|
2.
|
DS: mengeluh
penglihatan kabur, silau, penglihatan ganda dan sering jatuh.
DO: lingkungan rumah
yang kurang aman: lantai tidak datar, licin
atau menurun, karpet yang tidak dilem dengan baik, keset yang tebal/menekuk pinggirnya,
penerangan yang tidak baik (kurang atau menyilaukan)
|
Kekeruhan lensa
(katarak)
Blocking
sinar yang masuk ke kornea
Bayangan
semu yang sampai ke retina
Otak
menginterpretasikan sebagai bayangan berkabut
Pandangan kabur
Risiko cedera
|
Risiko cedera
|
|
3.
|
DS: Mengeluh
penglihatan kabur sehingga keterbatasan dalam melakukan aktivitas kebutuhan
sehari-hari.
DO: Penurunan dalam
melakukan aktivitas pemenuhan kebutuhan sehari-hari (ADL) berdasarkan Indeks
Katz
|
Kekeruhan lensa
(katarak)
Blocking
sinar yang masuk ke kornea
Bayangan
semu yang sampai ke retina
Otak
menginterpretasikan sebagai bayangan berkabut
Pandangan kabur
Tidak mampu melihat dengan jelas
Kurang perawatan diri
|
Kurang perawatan diri
|
|
4.
|
DO: mengeluh pandangan
kabur dan bingung.
DS: Fungsi intelektual
klien menurun berdasarkan SPMSQ,
Aspek kognitif dari fungsi mental klien
menurun berdasarkan MMSE,
Fungsi sosial klien menurun berdasarkan
APGAR keluarga dengan lansia.
|
Kekeruhan lensa (katarak)
Blocking sinar yang masuk ke
kornea
Bayangan semu yang sampai ke
retina
Otak menginterpretasikan sebagai
bayangan berkabut
Pandangan kabur
Kurang informasi
Kurang pengetahuan
|
Kurang pengetahuan
|
|
5.
|
DS: mengeluh pandangan
kabur, bingung, kehilangan sumber pendukung.
DO: Terdapat
tanda-tanda depresi pada klien berdasarkan IDB,
Fungsi sosial klien menurun berdasarkan
APGAR keluarga dengan lansia.
|
Kekeruhan lensa (katarak)
Blocking sinar yang masuk ke
kornea
Bayangan semu yang sampai ke
retina
Otak menginterpretasikan sebagai
bayangan berkabut
Pandangan kabur
Risiko kehilangan penglihatan
Ansietas
|
Ansietas
|
3. Diagnosa keperawatan
a.
Gangguan persepsi sensori: penglihatan yang
berhubungan dengan penurunan tajam penglihatan dan kejelasan penglihatan.
b.
Resiko cedera yang berhubungan dengan
keterbatasan penglihatan, pandangan kabur.
c.
Kurang pengetahuan: katarak yang berkaitan dengan kurangnya informasi
mengenai kondisi, prognosis dan pengobatan.
d.
Ansietas yang berhubungan dengan takut kehilangan penglihatan
e.
Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan ketidakmampuan untuk melihat tubuh dan wajah yang cukup jelas untuk menjaga penampilan pakaian dan kosmetik.
4. Intervensi
a.
Gangguan persepsi sensori: penglihatan yang
berhubungan dengan penurunan tajam penglihatan dan kejelasan penglihatan.
1)
Pengertian
Adalah suatu keadaan di
mana individu mengalami perubahan dalam jumlah atau pola dari penerimaan
rangsangan disertai dengan diminished,
eksagregasi, distorsi atau gangguan berespons terhadap rangsangan tersebut.
2)
Berhubungan dengan:
Gangguan penerimaan
sensori: gangguan status organ indra.
3)
Tujuan:
Klien melaporkan atau
memperagakan kemampuan yang lebih baik untuk proses rangsang penglihatan dan
mengkomunikasikan perubahan visual.
4)
Kriteria hasil:
a)
Berpartisipasi dalam pengobatan.
b)
Mempertahankan lapang ketajaman penglihatan
tanpa kehilangan lebih lanjut.
c)
Mengidentifikasi faktor-faktor yang
mempengaruhi fungsi penglihatan
seperti: proses penuaan, pencahayaan ruangan.
d) Mengidentifikasi dan
menunjukkan pola-pola alternatif untuk meningkatkan penerimaan rangsang
penglihatan seperti penggunaan
rangsangan audiotorik, taktil dan pengaturan lingkungan tempat tinggal.
5)
Intervensi keperawatan:
a)
Kaji ketajaman penglihatan klien.
Rasional: mengidentifikasi kemampuan visual klien.
b)
Identifikasi alternatif untuk optimalisasi
sumber rangsangan.
Rasional: memberikan keakuratan penglihatan dan perawatnnya.
c)
Anjurkan penggunaan alternatif rangsang
lingkungan yang dapat diterima: audiotorik, taktil
Rasional: meningkatkan kemampuan respons terhadap stimulus
lingkungan.
d) Beritahu
klien bentuk-bentuk rangsangan alternatif (radio. TV, percakapan).
Rasional: meningkatkan
stimulasi. Saat pandangan menjadi terbatas, beberapa klien mengganti dengan
stimulasi yang lain seperti radio dan TV untuk membaca.
e)
Beri waktu lebih lama untuk memfokuskan
sesuatu
Rasional: meningkatkan kemampuan respons
terhadap stimulus
f)
Anjurkan klien untuk memeriksakan mata secara
berkala
Rasional: Menunda pemeriksaan mata
dapat menyebabkan kehilangan penglihatan
permanen dan memungkinkan timbulnya komplikasi.
g)
Kolaborasi untuk penggunaan alat bantu
penglihatan seperti kacamata katarak dan tindakan pembedahan
Rasional: tidaklah perlu dibedah bila belum
menghalangi penglihatan, pembedahan diperlukan untuk mendapatkan penglihatan
yang lebih baik dan kacamata katarak akan memperbesar ± 25%.
b.
Risiko cedera yang berhubungan dengan
keterbatasan penglihatan, pandangan kabur.
1)
Pengertian
Risiko cedera adalah
peningkatan risiko dari kecelakaan cedera jaringan (seperti luka, luka bakar,
fraktur).
2)
Berhubungan dengan:
1.
Kurangnya pendidikan tentang keamanan
2.
Riwayat trauma terdahulu
3.
Kurangnya penglihatan
4.
Ketidakmampuan menidentifikasi bahaya dalam
lingkungan
3)
Tujuan: cidera tidak terjadi
4)
Kriteria hasil:
a)
Meningkatkan tingkat aktivitas
b)
Dapat beradaptasi dengan lingkungan untuk
mengurangi risiko trauma/cedera
c)
Tidak mengalami trauma/cedera
d) Keluarga mengenali
potensial di lingkungan dan mengidentifikasi tahap-tahap untuk memperbaikinya.
5)
Intervensi keperawatan:
a)
Berikan informasi pada klien mengenai bahaya
lingkungan dan karakteristiknya.
Rasional: menurunkan bahaya keamanan
sehubungan dengan perubahan lapang pandang dan kehilangan penglihatan terhadap
lingkungan.
b)
Berikan materi pendidikan pada klien dan
keluarga yang berhubungan dengan strategi dan tindakan untuk mencegah cedera.
Rasional: meningkatkan pemahaman dan
mengurangi terjadinya kemungkinan terjadinya cedera.
c)
Identifikasi faktor yang mempengaruhi
kebutuhan keamanan, misalnya defisit motorik atau sensorik.
Rasional: mengetahui gangguan yang terjadi
dan perencanaan selanjutnua.
d) Identifikasai faktor
lingkungan yang memungkinkan resiko cedera (lantai licin, karpet yang sobek,
anak tangga berlubang)
Rasional: perlunya untuk mempertahankan
lingkungan yang aman.
e)
Sesuaikan lingkungan untuk optimalisasi
penglihatan:
a.
Orientasikan klien terhadap realitas dan
lingkungan saat ini bila dibutuhkan.
b.
Letakkan alat yang sering digunakan di dekat
klien atau pada sisi mata yang lebih sehat.
c.
Berikan pencahayaan yang cukup.
d.
Letakkan alat di tempat yang tetap.
e.
Hindari cahaya menyilaukan.
Rasional: meningkatkan kemampuan persepsi sensori dan
mengurangi resiko terhadap cedera
f)
Ajarkan
klien dan
keluarga tentang upaya pencegahan
cidera (menggunakan pencahayaan yang baik, memasang penghalang tempat tidur,
menempatkan benda berbahaya ditempat yang aman, lantai datar, bersih
dan tidak licin)
Rasional: lingkungan yang aman dapat membantu
mengurangi resiko cedera.
g)
Anjurkan pada keluarga untuk tidak merubah
lingkungan fisik yang tidak diperlukan dan mempertahankan lingkungan tetap aman
(misalnya, penempatan perabot).
Rasional: menurunkan bahaya keamanan
sehubungan dengan perubahan lapang pandang dan kehilangan penglihatan terhadap
perubahan lingkungan.
h)
Anjurkan klien untuk menggunakan kacamata protektif dan pelindung mata pada
siang hari dan pelindung mata pada malam hari atau sesuai keperluan.
Rasional: meningkatkan masukan sensori,
membatasi/menurunkan kesalahan interpretasi stimulasi.
i)
Letakkan benda dimana klien dapat melihat dan meraihnya tanpa klien
menjangkau terlalu jauh.
Rasional: jarak yang tidak terlalu jauh meminimalkan perjalanan
sehingga mengurangi resiko terjatuh.
j)
Bantu klien dengan ambulasi, sesusai dengan
kebutuhan.
Rasional: meningkatkan kemampuan klien dalam
melakukan kegiatan yang aman.
c.
Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan ketidakmampuan untuk melihat tubuh dan wajah yang cukup jelas untuk menjaga penampilan pakaian dan kosmetik.
1)
Definisi
Adalah suatu keadaan di
mana individu mengalami gangguan kemampuan untuk melakukan atau melengkapi
aktivitas untuk dirinya.
2)
Berhubungan dengan:
a)Penurunan atau kurangnya
motivasi
b)
Hambatan lingkungan
c)Defisit sensori
d)
Gangguan kognitif atau persepsi.
3)
Ditandai dengan:
Penurunan kemampuan
melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari (makan, mandi, berpakain, berdandan
dan eliminasi).
4)
Kriteria hasil:
a)
Mampu melakukan aktivitas perawatan diri
sesuai dengan tingkat kemampuan
b)
Mampu mengidentifikasi dan menggunakan sumber
pribadi/komunitas yang dapat memberikan bantun.
5)
Intervensi keperawatan
a) Jelaskan tentang
pentingnya melakukn perawatan diri
Rasional: kebersihan dan penampilan
meningkatkan kepercayaan diri.
b) Identifikasi kesulitan
dalam berpakaian atau perawatan diri
Rasional: masalah dapat diminimalkan dengan
menyesuaikan atau memerlukan konsultasi dari ahli lain.
c) Identifikasi kebutuhan
kebersihan diri dan berikan bantuan sesuai kebutuhan dengan perawatan rambut,
kuku, kulit, bersihkan kacamata dan gosok gigi.
Rasional: seiring perkembangan penyakit,
kebutuhan kebersihan dasar mungkin dilupakan.
d) Anjurkan klien melakukan
perawatan diri sesuai kemampuan yang dimiliki.
Rasional: meningkatkan kemandirian dan rasa
kontrol diri, dapat menurunkan perasaan tidak berdaya.
e) Bantu mengenakan pakaina
yang rapi dan indah
Rasional: meningkatkan kepercayaan untuk
hidup
f) Lakukan pengawasan dan
berikan kesempatan untuk melakukan sendiri sesuai kemampuan
Rasional: mudah sekali terjadi frustasi jika
kehilangan kemandirian.
g) Kolaborasi atau
konsultasikan dengan ahli terapi okupasi
Rasional: mengidentifikasi keutuhan,
meningkatkan kemandirian dan perasaan menghargai diri sendiri.
d.
Kurang pengetahuan: katarak yang berkaitan dengan kurangnya informasi
mengenai kondisi, prognosis dan pengobatan.
1)
Definisi
Adalah suatu keadaan di
mana informasi khusus sangat kurang.
2)
Berhubungan dengan:
a)
Kurang terbuka,
interpretasi informasi yang salah
b)
Tidak mengenal sumber
informasi
c)
Keterbatasan pengetahuan,
hilangnya kemampuan untuk mengingat kembali.
3)
Ditandai dengan:
a)
Tidak adekuat melakukan
pemeriksaan
b)
Sering bertanya
c)
Tidak dapat mengikuti
instruksi dengan akurat
4)
Kriteria hasil:
a)
Mengembangkan hubungan
saling percaya, saling membantu.
b)
Menyatakan pemahaman
tentang kondisi, prognosis dan pengobatan
c)
Mengidentifikasi hubungan
tanda atau gejala dengan proses penyakit
d) Melakukan
prosedur dengan benar dan menjelaskan alasan tindakan.
5)
Intervensi keperawatan
a)
Kaji pemahaman klien
tentang penyakitnya.
Rasional: persepsi yang keliru
mungkin berasal dari informasi yang salah atau pengalaman yang dipersepsikan
kurang tepat oleh klien.
b)
Jelaskan gambaran
penyakit dan kemungkinan penyembuhan.
Rasional: meningkatkan
pemahaman tentang gambaran operasi.
c)
Jelaskan tentang proses
penyakit, prosedur dan terapi, khususnya pembedahan untuk membantu mengurangi kecemasan pasien.
Rasional: meningkatkan
pemahaman klien tentang penyakit dan menimbulkan perbaikan partisipasi rencana
pengobatan.
d)
Beri kesempatan pada
klien untuk bertanya tentang penyakitnya.
Rasional: menimbulkan
rasa aman dan perhatian bagi klien.
e)
Evaluasi keinginan untuk
belajar.
Rasional: menentukan
jumlah informasi untuk memberikan hal yang penting.
f)
Kolaborasi atau rujuk ke
rehabilitasi vokasional.
Rasional: perlu penilaian
kemampuan sesuai indikasi dengan perkembangan penyakit/keterbatasan secara
individual.
e.
Ansietas yang berhubungan dengan takut kehilangan penglihatan
1)
Definisi
Adalah tidak jelas,
perasaan tidak menentu, sumber kecemasan biasanya tidak spesifik atau tidak dikenali
oleh individu.
2)
Berhubungan dengan:
a)
Ancaman terhadap konsep
diri
b)
Ancaman perubahan fungsi
peran
c)
Faktor fisiologis,
perubahan status kesehatan, nyeri, kehilangan penglihatan
d)
Kebutuhan tidak terpenuhi
3)
Ditandai dengan:
a)
Peningkatan ketegangan
(lekas marah)
b)
Ketakutan, ragu-ragu,
ketidakpastian.
c)
Meningkatnya rasa putus
asa
d)
Perasaan tidak tenang,
distress
e)
Gelisah, sulit tidur
f)
Selalu menghindar, kontak
mata kurang, tremor, wajah tegang, suara meninggi, keringan berlebihan.
4)
Kriteria hasil:
a)
Tampak rileks dan
melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat diatasi
b)
Menunjukkan keterampilan
pemecahan masalah yang efektif
c)
Menggunakan sumber secara
efektif.
5)
Intervensi keperawatan:
a)
Jelaskan gambaran kejadian pre- dan pascaoperasi, manfaat operasi, dan
sikap yang harus dilakukan klien selama masa operasi.
Rasional: Meningkatkan pemahaman tentang gambaran operasi untuk menurunkan
ansietas.
b)
Informasikan bahwa
perbaikan penglihatan tidak terjadi secara langsung namun bertahap dan mungkin
hanya untuk mencegah penyakit tidak lebih parah
Rasional: diperlukan
untuk antisipasi depresi atau kekecewaan terhadap hasil pengobatan.
c)
Beri kesempatan pada
klien untuk mengungkapkan ekspresinya
Rasional: memungkinkan
klien mengekspresikan ketakutan dan kekhawatirannya.
d)
Identifikasi sumber atau
orang yang menolong.
Rasional: memberikan
keyakinan bahwa klien tidak sendiri dalam menghadapi masalah.
e)
Anjurkan klien
mengungkapkan perasaan tentang diri dan penyakit, menghargai dan menerima rasa
takut, marah atau kurang berespons terhadap kejadian.
Rasional: pengungkapan
perasaan meningkatkan pemahaman koping atau mekanisme pertahanan diri individu.
f)
Pertahankan lingkungan
tenang, aman dengan menurunkan rangsangan, menjaga dan meyakinkan klien.
Rasional: keadaan
lingkungan membantu dalam mengurangi tingkat kecemasan.
g)
Diskusikan bahwa
pengawasan dan pengobatan mencegah kehilangan penglihatan tambahan.
Rasional: menurunkan
ansietas sehubungan dengan ketidaktahuan atau harapan yang akan datang dan
memberikan fakta untuk membuat pilihan pengobatan.
h)
Dorong klien mengakui
masalah dan mengekspresikan perasaan.
Rasional: memberikan
kesempatan klien menerima situasi nyata, mengklarifikasi salah konsepsi dan
pemecahan masalah.
i)
Tunjukkan fakta-fakta
tentang penyakit
Rasional: informasi
tentang persentase kejadian kebutaan pada berbagai kasus dan dapat meningkatkan
kepercayaan klien dan menambah keyakinan serta menurunkan ansietas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar